Friday, December 19, 2008

Segar Bugar Setelah Kemo dan Radiasi

Sudah lama aku tidak bertemu dengan Anas. Tahun ini ia menjalani kemoterapi dan radiasi di Surabaya, tak jauh dari Kediri, kota tahu tempat ia dilahirkan. Pengobatan yang berlangsung berbulan-bulan itu berjalan lancar dan sejak akhir Oktober ia sudah kembali ngantor di Jakarta.
Jangan bayangkan kalau ia kurus kering dan loyo.
Anas kelihatan segar bugar kemarin (Jumat, 19 Desember 2008). Rambutnya yang masih pendek tersisir rapi dengan belahan pinggir.
“Berat badanku malah naik,” katanya sambil tersenyum.
Ia tidak menerapkan diet super ketat, tapi mengurangi kolestrol dan menghindari makanan yang tidak sehat.
Pada saat menjalani kemo, terkadang ia merasa mual. Tapi selera makan tak banyak berkurang.
“Yang parah itu sariawannya. Sakit banget,” katanya.
Emang sih, waktu kemo, aku juga merasakan sakitnya sariawan. Kata bu dokter, salah satu cara mencegah sariawan adalah dengan berkumur-kumur setiap habis makan. Ini bagus untuk mencegah tertinggalnya sisa makanan di mulut (masa di piring?), yang dapat mengakibatkan terjadinya sariawan.
Setelah menjalani kemo yang ke-2, rambut Anas mulai rontok, tapi ia menerima kenyataan itu dengan besar hati.
Begitu kemo selesai, pengobatan dilanjutkan dengan radiasi selama 30 kali (kalo ga salah nih) yang dijadwalkan setiap hari, kecuali kalau kondisi kurang fit.
Dari tempat tinggalnya ke rumah sakit, ia menumpang mobil jemputan anak sekolah yang tak ber-AC. Biar jendela sudah dibuka lebar-lebar, tetap terasa panas. Namanya juga Surabaya….(sama panasnya dengan Jakarta ya?)
“Tapi aku nggak tahan kalau pakai wig atau topi. Rasanya malah pusing,” cerita Anas yang tak ambil pusing dengan pandangan orang.
Biarpun rambut belum banyak tumbuh, karena secara fisik Anas merasa sehat, ia juga sering membantu adiknya melayani pembeli di warung miliknya
“Ada yang memanggil aku Pak atau Om. Mungkin aku dikira laki-laki. Tapi aku cuek saja,” kata Anas yang senang bergaya sportif sambil tertawa.
Ketika ditanya soal radiasi, menurut Anas, prosesnya cepat sekali dan tidak sakit.
“Yang lama itu nunggunya,” katanya.
Radiasi juga menimbulkan efek panas. Kalau diguyur air dingin, pasti enak sekali rasanya, tapi itu dilarang dokter. Bekas radiasi tak boleh kena air, sampai seluruh proses radiasi yang berjalan hampir dua bulan itu selesai.
“Rasanya nggak enak sekali karena nggak bisa mandi dengan bebas,” ujarnya.
Sekarang ini kondisi Anas sudah pulih. Untuk menjaga kondisinya setiap hari Anas harus minum tablet Tamoplex dan berbagai vitamin.
Oh ya, selain itu tentu saja Anas sekarang juga bebas mandi sepuasnya setiap hari.

Monday, December 15, 2008

Anger at breast cancer charity's wine

Maksudnya sih baik, menggalang dana untuk riset mengenai kanker. Tapi ternyata banyak yang marah.
Ini gara-gara kegiatan penggalangan dana yang berlangsung di Selandia Baru tersebut dianggap mendorong orang untuk minum anggur. Padahal alkohol bisa meningkatkan resiko kena kanker.
Harian Sunday Star Times edisi 14 Desember 2008 melaporkan bahwa Breast Cancer Research Trust (BCRT) mengirim email kepada para pendukungnya berisi promosi Vintage Wines & Spirits yang menawarkan anggur Vavasour Rose seharga $100 / botol. Dari setiap botol yang terjual, perusahaan itu menjanjikan sumbangan $40.
BCRT menganggap enteng hubungan antara alkohol dan kanker payudara. Penasehat medis badan riset itu, dokter bedah John Harman, mengatakan alkohol hanyalah satu dari 200 faktor kemungkinan terkena kanker dan faktor utamanya adalah “usia dan jenis kelamin”.
Tetapi seorang peneliti, Sue Claridge, dari Breast Cancer Network, berpendapat lain. “Saya tak percaya mereka tak menyadari hubungan itu … mungkin mereka memutuskan bahwa uang lebih penting.”
Ia juga khawatir karena adanya peningkatan konsumsi minuman keras secara berlebihan di kalangan perempuan muda.
Soal minum anggur ini memang cukup kontroversial. Ada yang mengatakan bahwa minum segelas anggur sehari bagus untuk kesehatan. Tapi ada juga penelitian yang menunjukkan bahwa minum anggur segelas atau dua gelas sehari dapat meningkatkan resiko terkena kanker payudara hingga 50%.
Pendapat NZ Cancer Society sendiri cukup tegas. Organisasi ini akan menyarankan agar kelompok-kelompok anti kanker memutuskan hubungan mereka dengan perusahaan minuman keras.
Kepala eksekutif Dalton Kelly mengatakan sudah tiba saatnya untuk menangani dengan serius persoalan sponsor yang melibatkan alkohol.
“Ini adalah pengulangan hal yang terjadi 15 tahun yang lalu. Ketika itu banyak perusahaan rokok menjadi sponsor acara sosial, tapi sekarang ini sudah tidak lagi,” ujarnya.
Sebagian negara Eropa kabarnya bahkan melarang sponsor rokok untuk beberapa peristiwa olahraga.
Di Indonesia tak ada larangan semacam itu. Tapi pertengahan tahun ini penyanyi R&B Alicia Keys keberatan dengan keterlibatan perusahaan rokok yang menjadi sponsor terbesar dalam konsernya di Jakarta. Ia tak mau konser tunggalnya menjadi sarana promosi rokok bagi masyarakat dan bertentangan dengan kiprahnya sebagai juru bicara Campaign for Tobacco-Free Kids.

http://www.stuff.co.nz/sundaystartimes/4792250a6442.html

Why party poopers, corruptors are alike

(The following story has nothing to do with cancer… I wrote this because I was upset towards the condition surrounding us. Everything seemed to go wrong with many people being unethical, dishonorable and corrupt. )

http://www.thejakartapost.com/news/2008/12/14/why-party-poopers-corruptors-are-alike.html

Wedding receptions have different meanings for different people.

To the bride and groom, it is a public deceleration of ever-lasting love, even though some might find that their till-death-do-us-apart vow blows with the wind. To an event organizer, its a routine part of a multi-billion rupiah business, while for some guests it may just mean a free meal.

Last month I got a glaring pink wedding invitation from my cousin, he was going to throw a party for his youngest son's wedding at a five-star hotel in the city.

"With all due respect please bring this to be shown at the reception desk. Thank you for your cooperation." The words were written on a small card attached. Maybe the card could be exchanged for a wedding souvenir, or maybe if I brought the card, I would get a chance to win a door prize, I thought.

I was wrong -- totally.

The guests were required to bring the card to prevent gate-crashers from intruding on the party. "I have a relative who used to be one. Sometimes on the weekends he and his friends would dress up and go to a wedding at a hotel. They would bring envelopes as gifts," a friend commented.

Giving money in envelopes is a relatively new tradition. People used to give practical household items like dinner sets, cooking utensils, a blender or a clock.

But the newly-wed couple might not need these things and instead keep them in a cupboard until its their turn to go to a wedding and a present is needed.

Until several years ago, I found written requests on wedding invitations asking guests to give money instead of other present. For most people, of course, money is more appealing than a toaster.

So, uninvited guests could also bring an envelope as a wedding gift, but who's to know what's inside?. My friend said that when they crashed a wedding they would put as little Rp 1,000 (less than a dime) in each envelope.

The party poopers must laugh, imagining how shocked the bride and bridegroom will be when they open their envelope.

They think it is funny, but its actually really awful.

Those intruders are not poor people who are starving, they show up at the hotel in a nice car wearing their best suits and shoes. They come from wealthy families and are well educated. Indeed, this has nothing to do with education or class.

Educated, rich people can do shameful things. There are many stories about this. My Indonesian friend, who lives in Melbourne, was telling me one when visiting Jakarta recently.

A man from Jakarta who got a scholarship for a three-month post-graduate course in Melbourne brought along his wife and their baby. He bought a cheap, old car, which would allow them to get around during their stay in the country and could be sold later when they were done with it.

He also bought a baby seat to be put onboard, as required by local law.

In Australia and some other developed countries, customers are able to return goods they buy within a certain period of time, let's say 30 days, if they are not satisfied. So, the man bought a baby seat for the car, but after a month he returned it to the shop, and bought another one in another shop; he did this three times.

"And he told us his story proudly. He thought he was really smart," my cheesed-off friend told me.

The fact that the man was awarded a scholarship indicated that he must have some brains, which he unfortunately used in the wrong way.

People like him and the wedding crashers have something in common: A lack of ethics. But they are more than just unethical, they are selfish, inconsiderate and insensitive. They are not smart, but sly and tricky. They would do anything just for their own benefit, no matter how bad the impact on other people is. They are sick and dangerous people.

They are the kind who, if businessmen, bribe government officials to secure permits to exploit natural resources, clear forests and mine destructively. They cheat whenever they can and exploit workers, forcing them to work hard for low wages.

If they are government officials, there is no doubt they are corrupt. They abuse their power, show little care for the people and violate human rights. They are against democracy and run things without a conscience.

As law enforcers they discriminate. They give some criminals special treatment and lenient sentences. Worse, they drop corruption cases for bribes at the right price.

If they are legislators, they do not listen to their constituents, let alone fight for them. They only think about their interests and how to secure them.

As lawmakers, they bow to special political interest groups, like those who endorsed the controversial anti-porn law. For the sake of money, they do not hesitate to approve shortsighted policies and act as brokers for multi-million dollar projects at government ministries.

Unfortunately there are so many people like this around us.

I wonder if they have a habit of going to weddings, without being invited, just for a free meal.

I would not be surprised if one day I receive a wedding invitation that says: "Please bring your ID card to be shown at the reception."

--T. Sima Gunawan

Monday, December 8, 2008

Kisah Wortel

Pilih mana? Yang kiri atau yang kanan? Keduanya sama-sama wortel. Dibeli dari tukang sayur langganan yang tiap pagi lewat depan rumah.

Bedanya, yang kiri adalah wortel impor dan yang kanan wortel lokal. Mungkin wortel impor itu didatangkan dari Australia atau Thailand yang sejak tahun 2007 menyusul Cina memasuki Jakarta sehingga sempat membuat khawatir petani Cianjur yang banyak memasok sayuran ke ibu kota. Betapa tidak, wortel impor itu jauh lebih gemuk dan bersih, warnanya lebih cerah, banyak mengandung air dan rasanya juga lebih manis. Cocok untuk jus.

“Tapi kalau untuk sayur, banyak yang lebih suka wortel lokal karena tidak mudah lembek,” kata si mas tukang sayur yang berasal dari Purwokerto.

Soal harga, jelas lebih tinggi, karena ongkos kirimnya juga lebih mahal. Tapi bedanya tak begitu banyak. Satu kantong plastik wortel impor seberat ½ kg dihargai Rp 4.000, sedangkan wortel lokal Rp 3.000, naik Rp 500 dari harga sebelum lebaran.

“Kalau beli dua kantong yang impor ini boleh Rp 7.500,” kata tukang sayur. “Ngambilnya dari pasar Rp 7.000 sekilo. Saya cuma ambil untung Rp 500 nih,” katanya.

Barang dagangannya memang tergolong murah. Selain wortel, hari itu aku juga membeli sekilo apel lokal (yang bentuknya kecil-kecil tapi cukup manis), sekilo tomat, setengah kilo kacang tanah, jagung manis, pete, tempe dan sawi seperti yang tampak di gambar. Semua itu hanya Rp 30.000.


Hari minggu kemarin (7 Desember 2008) aku ke Carrefour di Bintaro. Di hypermarket yang dulunya adalah Alfa ini kulihat wortel impor diobral dari harga Rp 750 menjadi Rp 540 per 100 gram. Kebanyakan wortelnya sudah tidak segar, jadi harus teliti memilih untuk mendapatkan yang masih baik.

Tidak jauh dari situ, terdapat wortel lokal. Ada dua macam wortel lokal, yang satu bentuknya tidak terlalu kurus, agak besar dan panjang (tapi masih lebih gemuk wortel impor) sedangkan yang satu lagi penampilannya sangat mengenaskan: kurus sekali dan dekil. Keduanya juga sudah tidak segar lagi, kusam.

Herannya, wortel lokal yang agak besar harganya Rp 9.000 -an per kg, sedangkan yang kurus harganya Rp 7.000-an. Jauh lebih mahal dari wortel impor. Kok bisa, ya?

Egois Bikin Emosi

Hari Minggu kemarin hujan lebat mengguyur ketika aku tiba di Carrefour untuk membeli buah-buahan dan berbagai keperluan.

“Hujan-hujan begini enaknya makan yang anget-anget,” kata teman yang menemaniku belanja.

Maka kami pun mampir dahulu di deretan gerai makanan untuk menyantap baso Afung yang terkenal enak itu. Tempat makan ini letaknya menempel di emperan bangunan utama, menghadap ke areal parkir.

Tak lama setelah kami duduk, hujan mereda. Tiba-tiba semua dikagetkan oleh bunyi petir yang menggelegar.... eh salah, ternyata ada yang sedang marah besar. Seorang bapak yang tergesa-gesa hendak pulang gusar bukan buatan karena mobilnya terhalang oleh Daihatsu Xenia warna silver yang parkir seenak udelnya sendiri. Usaha untuk mendorongnya sia-sia belaka.

Petugas pun datang untuk mencatat nomor mobil tsb dan mengumumkan agar pengemudi segera memindahkannya .

Tunggu punya tunggu, sang pemilik tak juga datang.

“Mobil bagus tapi yang otaknya nggak bagus!” ujar si bapak dengan nada sengit. Wajahnya merah padam dibakar amarah.

Ketika sebuah mobil yang diparkir agak jauh di depannya keluar, munculah suatu gagasan. Ditendangnya tiang-tiang besi penyangga rantai yang berada di samping mobilnya. Tiang-tiang yang sengaja dipasang untuk memberi ruang bagi pengunjung agar leluasa berjalan kaki menuju pintu masuk Carrefour itu terguling dan rantainya tercerai-berai. Lalu ia memundurkan mobil dan sengaja menabrakkannya sedikit ke Xenia yang parkir sembarangan, kemudian dengan sigap dibantingnya stir ke kiri dan meliak-liuk dengan susah payah sebelum akhirnya berhasil meninggalkan areal parkir.

Siapa sih orang yang parkir seenaknya itu? Lagipula, terlalu sekali dia, kenapa tidak segera keluar untuk memindahkan mobilnya?

Kami menyantap baso pelan-pelan dan ketika sudah hampir habis, barulah datang si pemilik mobil. Seorang ibu berjilbab modis dengan anak perempuan ABG yang menenteng kantong plastik belanjaan.

“Tadi hujan lebat sih,” katanya kepada petugas yang menegurnya.

Dengan santai ia masuk mobil, tak sadar kalau bagian bawah mobil di dekat pintu sedikit penyok. Juga tak sadar kalau perbuatannya itu tidak etis dan sangat egois.

Tak ada kata maaf, tak ada rasa sesal. Tak ada rasa malu.

Wednesday, November 26, 2008

Dokter RI vs Dokter UK

Dokter Indonesia tidak kalah dengan dokter Eropa. Serius nih.
Dokter Eropa ini maksudnya bukan dokter yang berasal dari Moldova, sempalan Uni Soviet yang kini menjadi negara termiskin di Eropa dengan pendapatan per kapita US$420 per tahun. (Bandingkan dengan Indonesia yang pendapatan per kapitanya $500 lima tahun yll dan tahun ini diharapkan mencapai $2.200)
“Aku lebih suka dokter di sini dari pada di sana,” kata Adhiek yang baru datang dari Inggris.
Pekerjaannya di London memungkinkan ia untuk datang ke Indonesia rata-rata setahun dua kali. Kesempatan itu digunakan oleh Adhiek, yang pernah dioperasi karena myoma di rahim, untuk melakukan pemeriksaan medis di RS Pondok Indah setahun sekali.
Sambil menikmati jus belimbing dan pisang goreng di sebuah café di Citos –singkatan dari Cilandak Town Squre, di Jakarta Selatan, hari Rabu (26 November 2009), Adhiek menegaskan bahwa ia lebih percaya dengan dokter di RSPI, yang kebetulan juga dikenalnya secara pribadi.
“Soalnya dokterku yang di sana pernah ‘miss’” katanya (bukan berarti dokternya pernah ikut kontes Miss London atau Miss Universe lho).
“Jadi kalau dibilang orang Indonesia suka berobat ke luar negeri, aku juga termasuk.. Tapi luar negerinya adalah Indonesia,” katanya sambil tertawa.
Meskipun ada pasien yang mengeluh tentang layanan yang kurang menyenangkan dari tenaga medis di sini, sebetulnya Indonesia mempunyai banyak dokter yang baik (termasuk dokter Win yang setiap bulan memberiku suntikan Zoladex dan infus Zometa). Dan Adhiek telah membuktikan bahwa ada dokter di Indonesia yang lebih handal dari dokter di London.
Untuk menjaga kesehatannya, Adhiek rajin berolah raga. Selain rutin berenang, tiga kali seminggu ia berjalan kaki sejauh 3 km sambil berbelanja keperluan dapur.
Adhiek mempunyai hobi memasak, yang dipadukan dengan imajinasi.
Kalau ingin memasak perkedel, maka ia akan melihat gambarnya terlebih dahulu, membayangkan perkedel yang lezat, lalu menentukan bumbu-bumbunya dan cara membuatnya.
Wah, jadi lapar nih…
Buat Adhiek, semoga selalu sehat dan gembira.

Saturday, November 22, 2008

Sampah Basah di Toilet RS Dharmais

Suatu siang di awal bulan November seorang teman mengabarkan bahwa RS Kanker Dharmais berhasil menjadi juara green office tingkat Jakarta.
“Padahal terakhir kali aku ke sana WC-nya bau pesing,” kataku spontan.
“Mungkin karena mereka hemat air,” jawabnya sambil tertawa.
Maaf ya .. kami tak bermaksud mengolok-olok. Selamat atas keberhasilan RS Dharmais menyandang gelar juara dan menggondol hadiah Rp 10 juta.
RS yang amat luas itu memiliki banyak WC. Yang paling laris adalah yang terletak tak jauh dari lobi, di belakang Café Olala.
Kalau petugas cleaning service baru saja membersihkannya, maka toilet itu tentulah bersih dan wangi. Tetapi kebetulan baunya memang sedang kurang sedap ketika aku menggunakannya.
Soal itu bukan kesalahan pihak RS. Ini gara-gara masih banyak pengunjung yang belum bisa menggunakan WC dengan baik dan benar. Misalnya, ada saja yang masih buang air di lantai, dan bukannya di lubang WC, atau jongkok di kloset duduk. Belum lagi yang ogah antre dan suka nyerobot.
Beberapa hari setelah mendapat kabar mengenai keberhasilan RS Dharmais dalam lomba green office, aku ke sana untuk menjalani bone scan. Pemeriksaan diadakan di lantai dasar yang suasananya cukup sepi, tidak seperti di lobi.
Toilet di bagian radiologi bersih, terutama karena jumlah pemakai tidak banyak. Seperti yang terlihat beberapa bulan sebelumnya, di toilet terpasang poster berisi tata cara mencuci tangan dengan baik.
Setelah dicuci bersih dengan sabun dan air, tangan diseka dengan tisue yang kemudian dipakai untuk mengelap wastafe Ada yang kurang dalam poster itu. Seharusnya ditambahkan agar pemakai toilet membawa sabun dan tisue dari rumah… karena tak ada sabun dan tisue di situ.
. Tapi di toilet lain ada lho, tisuenya. Tepatnya di poliklinik yang terletak di lantai dasar, paling ujung. Ketika aku ke sana pada suatu siang menjelang sore, toilet itu bersih sekali. Dan yang membuatku terharu, di samping kloset terdapat tempat sampah bertuliskan “Sampah Basah.”
Tulisan lengkap tentang keberhasilan Dharmais menyabet gelar juara green office dapat dibaca di :
http://www.thejakartapost.com/news/2008/11/17/hospitals-take-part-effort-reduce-waste-emissions.html

Suka duka naik Air Asia

Ada dua hal yang melekat di ingatan ketika terbang dengan Air Asia ke Batam dalam perjalanan berobat belum lama ini.
Yang pertama, penumpang tak perlu lagi berebut tempat duduk. Sempat kaget juga ketika saat check in petugas memberi nomor tempat duduk. Nah, kalau begini kan enak. Kenapa nggak dari dulu, ya...
Kedua, ketika pesawat sudah berada di angkasa, ada pengumuman bahwa penumpang dilarang membawa makanan dari luar. Kalau ingin makan, belilah makanan yang dijual di pesawat.
Tak jelas apa dasar hukumnya. Apakah memang ada undang-undang yang melarang penumpang kapal udara menyantap makanan yang di bawa dari rumah atau di beli di luar?
Bagaimana dengan bayi atau penumpang yang sedang diet?
Lalu, kalau ada penumpang ketahuan makan sesuatu yang dibawa dari luar apa hukumannya? Apakah akan diturunkan di jalan (emangnya bis kota..) ?
Sebagai budget airline, Air Asia tak menyediakan makanan atau minuman gratis bagi penumpang. Sedangkan menu yang disajikan sangat terbatas. Dulu dalam perjalanan dari Jakarta ke Batam hanya ada nasi kuning dan sandwich serta mi instan. Kemarin ada nasi lemak dan mungkin juga ada beberapa menu lain.
Meskipun seandainya Air Asia menawarkan seratus, seribu atau bahkan sejuta macam makanan, tetap saja peraturan yang malarang orang membawa makanan dari luar haruslah dicabut karena melanggar HAM.
Oh ya, selain dua hal tersebut di atas, ada lagi nih. Dulu Air Asia punya counter khusus untuk check in bagi mereka yang bepergian tanpa bagasi. Fasilitas itu sekarang sudah tak ada. (Update: ketika aku naik Air Asia tahun 2010, counter untuk express check in sudah ada lagi).
Baru-baru ini biaya bahan bakar alias fuel charge ditiadakan, tapi harga tiket tak banyak terpengaruh. Terlepas dari itu semua, memang Air Asia masih termasuk murah dan aku senang naik Air Asia karena selain harganya ringan, tiket juga dapat dibeli melalui internet. Gampang sekali, sama seperti Valuair yang berbasis di Singapura atau perusahaan penerbangan nasional lainnya, Mandala dan Lion Air.
Soal ketepatan waktu, berdasarkan pengalaman selama ini, kalau berangkat pagi-pagi dari Jakarta biasanya tepat. Tapi dari Batam ke Jakarta seringkali terlambat. Celakanya keterlambatan itu tak selalu diinformasikan dengan akurat.
Air Asia mempunyai komitmen untuk tepat waktu dan berjanji akan memberikan voucher Rp 500 ribu untuk keterlambatan lebih dari 2 jam. Kecuali kalau ada kondisi darurat atau pemberitahuan sebelumnya yang disampaikan 24 jam (atau lebih) dari waktu keberangkatan.
Pesawatku yang seharusnya berangkat dari Batam tgl 8 November jam 16:55 diundur menjadi jam 18:15. Pemberitahuan disampaikan melalui SMS tiga hari sebelumnya.
Pada hari itu, menjelang jam 5 aku sudah sampai di Bandara dengan diantar oleh Utiek, Hardi, Tika dan Atika (thanks yach). Pada saat check in, aku memastikan soal keberangkatan, dan petugas mengatakan bahwa tak ada informasi tentang penundaan lebih lanjut.
Tunggu punya tunggu… Sampai waktunya tiba, tak ada suara pengumuman apa-apa. Hanya ada keterangan di layar informasi bahwa penerbangan tertunda. Tak jelas, ditunda sampai kapan.
Ternyata…. jam 19 lewat kami baru naik ke pesawat. Yach… sudahlah yang penting selamat sampai tujuan.

Tuesday, November 11, 2008

Soeharto dan Nenek Obama

Soeharto dan Nenek Obama punya persamaan. Keduanya sama-sama meninggal dunia pada usia 86 tahun.

Bedanya, Soeharto yang kakek-kakek meninggal karena berbagai komplikasi termasuk penyakit ginjal dan jantung, sedangkan nenek Obama disebutkan meninggal karena kanker.

Madelyn Dunham menghembuskan nafas terakhir tanggal 3 November di rumahnya di Hawai, hanya sehari sebelum digelarnya pemilihan presiden Amerika yang menjadikan Barrack Obama sebagai orang nomor 1 di negara adi kuasa tersebut.

Tahun 1995 Obama juga kehilangan ibunya yang meninggal karena kanker rahim pada usia 53.
Sekarang sudah tahun 2008. Dalam jangka waktu 13 tahun ini banyak penelitian dalam bidang pengobatan kanker yang sudah dilakukan dan menghasilkan obat-obat yang dapat meningkatkan kualitas hidup penyintas kanker.
Yach, memang kematian seseorang tak dapat diramalkan. Nenek Obama ternyata dapat bertahan sampai usia lanjut. Hampir semua media memberitakan kematiannya, tapi tak ada yang menjelaskan kanker apa yang dideritanya dan apa resepnya sampai ia bisa terus menikmati indahnya hidup ini hingga sekian lama. Siapa tahu tarian hula-hula bisa membantu menahan penyebaran sel-sel kanker...

Yang jelas, Madelyn memang hebat. Pada waktu Perang Dunia II, ia bekerja di pabrik perakitan bom di Kansas. Seusai perang, ia meniti karir di sebuah bank di Hawaii sebagai sekretaris dan sukses hingga memegang jabatan sebagai Vice President.
Madelyn inilah yang telah membesarkan Obama selama bertahun-tahun.
Obama memanggilnya “Toot”, kependekan “Tutu” yang berarti nenek dalam bahasa Hawaii.
Madelyn menikah dengan Stanley Dunham dan mempunyai seorang anak perempuan bernama Stanley Ann. Ann menikah dengan Barack Hussein Obama Sr. yang berasal dari Kenya dan di tahun 1961 lahirlah Obama yang kita kenal sekarang ini. Ann kemudian bercerai dan belakangan menikah dengan orang Indonesia, Lolo Soetoro yang sedang kuliah di Hawaii.
Di usia 6 tahun Ann dan suaminya membawa Obama pindah ke Indonesia. Pernikahan mereka tak berlangsung lama dan tahun 1971 Obama terbang ke Hawaii untuk tinggal bersama nenek dan kakeknya hingga selesai SMA.
Untung juga yach ibu Obama mengirimkan anaknya ke Hawaii. Kalau ia masih tinggal di Indonesia, wah, apa ya jadinya…. Eh.. Apa jadi presiden RI?
Obama sering menyebut neneknya sebagai perempuan yang tangguh dan berhasil karena kecerdasan dan keteguhan hatinya.
Sedangkan Ann yang tak banyak disebut-sebut juga merupakan sosok yang mengagumkan. Ia adalah antropolog yang menaruh perhatian besar terhadap perempuan dan rakyat jelata. Ann pernah tinggal di Jakarta dan Yogyakarta, bekerja di Ford Fondation dan USAID. Tenaga dan pikirannya tercurah bagi usaha meningkatkan kesejahteraan penduduk miskin di pedesaan serta kaum perempuan yang tertindas.
Tanpa Madelyn dan Ann, dunia tak akan dapat melihat pemimpin baru yang menjadi tumpuan berjuta-juta umat di Amerika dan dunia.
Nah... teman-teman sesama penyintas kanker, jangan berkecil hati. Siapa tahu dari rahim kita atau anak, cucu, cicit kita .. akan lahir calon pemimpin yang dapat menjadikan Indonesia negara yang berprestasi dan disegani.

Friday, October 31, 2008

Gara-gara busway

Katanya naik busway itu enak. Ya, kalau dibandingkan dengan Kopaja atau Metromini. Apalagi kalau jalanan lagi macet, soalnya busway punya jalur khusus.
Belum lama ini aku ke kantor imigrasi Jakarta Selatan di Jl. Warung Buncit untuk memperpanjang paspor. Sebelumnya survei dulu. Kalau pakai calo, ongkosnya antara Rp 500.000 – Rp 800.000, sedangkan tanpa calo Rp 270.000. Jadi aku pilih ngurus sendiri.
Hari itu aku menyetir mobil. Jl. Warung Buncit macet dan tempat parkir di kantor imigrasi sudah penuh. Jadi ketika aku harus datang kembali untuk pengambilan foto dan sidik jari pada hari Selasa kemarin (28 Oktober 2008), aku titip mobil di halaman parkir Kebun Binatang Ragunan, yang juga merupakan tempat pemberangkatan busway dan dari sana aku naik bus. Ternyata bus cukup penuh. Akupun terpaksa bergelantungan. Wah, ini salah. Seharusnya tidak boleh bergelantungan begitu. Bukan karena takut jadi mirip monyet Ragunan. Tapi bergayut dengan tangan kanan membuat dada kanan (bekas operasi) dan lengan jadi sakit.
Sakitnya baru terasa dua hari kemudian. Ini juga ditambah sakit pinggang gara-gara sebelumnya aku sempat membereskan gudang yang tercemar tumpahan oli bekas gara-gara kalengnya yang tak tertutup rapat terguling (entah siapa yang punya ulah menggulingkannya). Rasanya pegal sekali. Untuk mengurangi rasa sakit, aku oleskan Counterpain. Tapi tidak terlalu membantu.
Semalam aku terbangun karena sakit, lalu teringat reiki. Bagian dada yang sakit aku reiki. Sekarang ini, kalau menarik nafas panjang, dada kanan masih terasa sedikit sakit. Tapi rasanya sudah mendingan. Mungkin ini sugesti, mungkin juga time heals.
Yang jelas sekarang harus lebih berhati-hati, harus sadar kalau kekuatan fisik sudah berkurang, tak seperti Xena atau Wonderwoman (bukan Mulan Jamilah lho).
Enak juga, ada alasan buat bermalas-malasan dan memanjakan diri….

Saturday, October 11, 2008

Kanker Bukan Halangan Untuk Jadi Model

Apa syarat menjadi peragawati? Cantik, tinggi langsing, pandai melenggak-lenggok di catwalk. Mungkin begitu yang ada dibenak kita kalau mendengar syarat untuk menjadi model.
Ternyata kita salah.
Syaratnya adalah harus kena kanker payudara.
Lho..???
Bukan bercanda … Serius nih.
Semua model yang tampil dalam London Fashion Show awal bulan ini semuanya penyintas kanker payudara (cancer survivors). Soalnya acara ini digelar untuk menggalang dana dalam rangka Bulan Sadar Payudara alias Breast Cancer Awareness Month yang kebetulan jatuh di bulan Oktober ini.
Sebanyak 23 model penyintas kanker payudara dari berbagai tempat di Inggris turut ambil bagian dalam acara ini. Diantaranya adalah Ebony Sheikh, yang didiagnosa terkena kanker payudara tahun 2006, Angela Edgcombe, didiganosa tahun 2000 dan Jane Taylor yang didiagnosa tahun 1990 (lihat gambar samping, dari kiri ke kanan). Satu-satunya pria yang ikut serta adalah Lance Bryant, yang juga terkena kanker payudara.
Selain itu ada juga Annette Prowse yang berusia 58. Tahun 2002 dokter memberitahu kalau ia terkena kanker payudara dan Ann harus menjalani mastektomi dan radioterapi sebelum akhirnya dinyatakan bebas dari kanker lima tahun kemudian.
“Saya ingin berjalan di atas catwalk dan menunjukkan kepada semua orang bahwa saya baik-baik saja. Pasti asyik dan meriah,” katanya seperti dikutip oleh BBC sebelum acara dimulai.
Meskipun Ann dan rekan-rekannya tak memiliki keindahan fisik seperti super model, mereka semua tampil dengan penuh rasa percaya diri. Kehadiran mereka di panggung tak hanya mengundang tepuk tangan meriah dari para pengunjung, tapi juga menggugah emosi. (http://www.youtube.com/watch?v=2L08oG9B8r8)
Acara tahunan ini diselanggarakan oleh Breast Cancer Care yang sekarang menginjak usia 35.
Pertunjukan digelar dua kali, sore dan malam hari. Harga tiket untuk acara sore hari £600 per meja atau £60 per orang ludes dalam waktu singkat. Sedangkan pada malam hari, harga per meja £ 1.500 atau £ 150 per orang dan yang ini tampaknya juga habis terjual.
Tahun lalu acara serupa berhasil menggalang dana sebesar £28.000.
Peragaan busana dengan model penyintas kanker payudara juga cukup populer di Amerika. Bagaimana dengan Indonesia? Kayaknya sih belum ada. Tapi bukan tak mungkin membuatnya ada. Paling tidak kan sudah ada Rima Melati, penyintas kanker payudara yang paling terkenal di sini. Aku sih belum pede naik panggung, tapi paling tidak, bisalah bantu-bantu menyebarkan beritanya.
Siapa tahu, gagasan itu dapat terwjujud tahun depan?

Awas. Musuh Dalam Selimut

Remaja juga bisa terkena payudara. Mungkin banyak yang tak percaya. Ah, mana mungkin. Bukannya itu penyakit orang tua angkatan nyokap gue?
Itu dulu….Sekarang ini rekor penderita kanker payudara juga masih dipegang orang-orang setengah baya. Tapi semakin lama, semakin terkuak kenyataan adanya penderita berusia muda. Ini bukan isapan jempol dan tidak terjadi di luar negeri saja. Tahun lalu saja sudah ada berita tentang adanya pasien di RS Dharmais yang baru berusia 18 tahun.
Kok bisa? Nah, pasti muncul pertanyaan ini. Meskipun orang-orang pintar (maksudnya scientist lho, bukan paranormal) masih sibuk berkutetan dengan riset mereka untuk mengetahui dengan pasti penyebab kanker payudara, sudah dapat dipastikan bahwa ada beberapa faktor pemicu penyakit ini.
Selain riwayat dalam keluarga, gaya hidup yang buruk seperti malas berolah raga, malas makan sayur dan buah, suka merokok dan minum alkohol serta terlalu banyak makan junk food serta makanan lain yang kurang sehat. Terlalu banyak pikiran alias stress juga bisa meningkatkan resiko terkena kanker payudara.
Di jaman serba instan semakin banyak dari kita yang bergaya hidup tak sehat. Kemana-mana naik mobil, sering jajan di luar, mulai dari gorengan di pinggir jalan dan kantin di sekolah sampai makanan di café atau restoran mewah di mal yang sungguh lezat itu.
Enak sih enak, tapi hati-hati, mungkin terasa nikmat karena banyak bumbu penyedapnya yang nota bene merupakan bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan kita. Belum lagi minyaknya yang dipakai terus-menerus (kalo bisa ngintip dapurnya, mungkin keliatan tuh minyaknya yang item banget kayak oli bekas yang encer…) padahal menurut orang pintar, minyak itu hanya boleh dipakai 2-3 saja, setelah itu harus dibuang karena pemanasan suhu tinggi menyebabkan adanya kandungan zat2 berbahaya seperti asam lemak trans, peroksida dan karsinogenik yang dapat menyebabkan kanker.
Apalagi bahan makanan yang mengandung bahan kimia yang berbahaya termasuk formalin, atau bahan pewarna yang kelihatan cerah ceria padahal bisa membawa akibat buruk bagi kesehatan.
Karena itu kita semua harus waspada akan bahaya kanker payudara yang mengintai bagaikan musuh dalam selimut ini. Hehehe… dibilang musuh dalam selimut soalnya bahaya itu bersembunyi dalam selimut, eh, maksudnya dalam makanan yang kelihatannya manis dan tidak berbahaya, bahkan cenderung menggoda…
Tapi kadang-kadang kita kan kepingin juga dong… jajan. Kalo kita mau langsung berhenti makan di luar, ya susah… Tapi mungkin kita perlu pintar-pintar memilih makanannya. Misalnya kalau makan ayam goreng KFC, kita ga usah makan kulitnya. Atau kalau kita pesen baso, kita minta ga usah pakai micin.
Temanku Titah dari Sahabat Kanker punya tips yang bagus. Dia bilang, daripada makanan berkaki lima (maksudnya makanan di kaki lima alias di pinggir jalan … atau pookoknya makanan yang dijual di luar), lebih baik makanan berkaki empat yang dimasak sendiri. Daripada yang berkaki empat (maksudnya daging merah atau daging sapi), lebih baik yang berkaki dua (alias ayam, bukan manusia lho… emangnya Sumanto si kanibal !!!). Lalu yang terakhir, daripada yang berkaki dua lebih baik berkaki satu (alias pohon… maksudnya tanaman.. sayur dan buah…….).
Setuju? Setuju dong…

Merah jambu di bulan Oktober

Ada apa di bulan Oktober ini? Banyak. Ada hari Kesaktian Pancasila (1 Oktober) dan hari TNI (5 Oktober) yang sudah kurang terdengar gaungnya. Ada juga hari PBB yang jatuh tgl 24 Oktober pas hari Dokter Indonesia (baru denger ada hari dokter…) dan hari Sumpah Pemuda (28 Oktober).
Tapi yang lebih penting adalah, bulan Oktober merupakan Breast Cancer Awareness Month alias Bulan Peduli Kanker Payudara.
Ini adalah kampanye internasional yang diadakan oleh lembaga-lembaga sosial setiap bulan Oktober untuk meningkatkan kesadaran atas penyakit ini dan untuk menggalang dana untuk riset, pencegahan dan penyembuhan. Kampanye ini juga menyediakan informasi dan dukungan bagi mereka yang terkena kanker payudara.
Selain itu ada juga penggalangan dana dan peningkatan kesadaran akan bahaya kanker payudara melalui berbagai kegiatan.
Kampanye ini mulai diadakan tahun 1985 di Amerika oleh AstraZeneca. Ini bukan nama orang, tapi perusahaan yang memproduksi obat kanker, Arimadex dan Tamoxifen. Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran orang akan mamografi sebagai senjata ampuh untuk melawan kanker payudara.
Dari tahun ke tahun semakin banyak perusahaan yang turut terlibat dalam kampanye yang semakin mendunia ini. Bukan hanya perusahaan obat, tetapi juga yang lain seperti Estee Lauder dan Avon yang kebetulan sama-sama perusahaan kosmetik.
Pink ribbon atau pita merah jambu yang sering kita lihat dalam kampanye diperkenalkan tahun 1991 oleh Susan G Komen Foundation, yayasan yang aktif bergerak di bidang kanker payudara, sebagai simbol kanker payudara.
Ngomong-ngomong soal pita. Ingat dong lagu berjudul Tie a Yellow Riboon Round the Ole Oak Tree yang dirilis tahun 1970-an? Lagu itu diilhami oleh kisah seorang perempuan yang suaminya bertugas di Iran dan ia memasang pita kuning di pohon untuk menggambarkan keinginannya melihat suami pulang.
Tapi soal pita kuning itu sendiri sebetulnya sudah ada tahun 1940-an ketika seorang perempuan mengenakannya di leher sebagai simbol kerinduan atas suaminya yang tengah berperang.
Tahun 1990-an, pita merah digunakan oleh para penggiat AIDS untuk menunjukkan perlawanan mereka terhadap penyakit ini. Warna merah dipilih untuk melambangkan passion, keinginan yang menggebu-gebu untuk hidup
Kenapa pita sebagai lambang kanker payudara berwarna merah jambu? Mungkin karena penyakit ini banyak menyerang perempuan, dan barang yang berbau perempuan sering diberi warna merah jambu, seperti baju-baju boneka Barbie atau bahkan mobil yang diharapkan dapat memikat hati perempuan, seperti Honda jazz yang berwarna pink
Merah jambu juga dihubungkan dengan romantisme. Di hari Valentine, semuanya serba merah jambu.
Tapi yang lebih mendasar adalah bahwa merah jambu adalah warna cinta yang universal. Cinta kepada diri sendiri dan orang lain. Kasih sayang dan perhatian pada sesama.







Apakah Anda suka merah jambu? Kalau aku pribadi sih, lebih suka jambu… enak … hehehhe… .

Thursday, October 9, 2008

Bayar Pakai Kartu Kredit di Apotek RS Dharmais Kena Biaya Tambahan 3 Persen


Liburan Lebaran, semua pada libur. Tapi berobat tak boleh libur.
Terakhir kali aku suntik dan infus adalah hari Kamis, tgl.4 September 2008. Pengobatan ini harus dijalani setiap 4 minggu sekali, jadi giliran berikutnya jatuh pada hari Kamis tgl. 2 Oktober 2008. Karena tgl 1 dan 2 Oktober hari Raya Idul Fitri (maaf lahir batin ya teman2…), maka pengobatan mundur sampai hari Sabtu, tgl 4 Oktober 2008.
Yach.. kalo maju mundur barang 1-2 hari sih tidak apalah… Begitu pikirku. Tapi ternyata apotik Prima langgananku, tutup. Apotik Grogol juga tutup.
“Coba RS Dharmais, pasti di sana buka. Obatnya sedikit lebih mahal,” kata bu dokter ketika aku minta agar jadwal berobat diundur.
RS Dharmais memang tidak tutup. Tapi harga Zoladex 3.6 ml beda Rp 81.000 sedangkan Zometa 5 ml bedanya lebih dari Rp 351.000 (tiga ratus lima puluh satu ribu rupiah).
Apa boleh buat. Daripada daripada, ya aku beli saja. Mbak penjaga apotek RS Dharmais orangnya baik dan pelayanannya juga cepat. Apalagi waktu aku ke sana hari Jumat sekitar jam 7 malam, apotek sepi sekali.
“Kok mahal sih mbak? Nggak bisa kurang nih?” aku bertanya.
Emangnya jual obat di pasar, bisa ditawar…! (Eh, bisa lho, aku kemarin beli 2 tabung Redoxon CDR di apotek Puter, Bintaro, harganya Rp 25.200, tapi waktu aku bilang ke mbaknya supaya dibulatkan jadi Rp 25.000 saja, si mbak langsung setuju, Untuk informasi, di Giant harganya >Rp 26.000 dan di Carrefour > Rp 28.000).
Di Dharmais sih mana bisa tawar menawar. Jadi mau ga mau ya aku bayar saja. Pakai kartu kredit karena tak ada cash.
“Kena biaya 3 persen, ya,” kata si mas yang bertugas jadi kasir di sana.
“Lho mas, kenapa mesti kena charge?” kataku terheran-heran karena setahuku kasir utama (bukan kasir Apotek) tidak pernah mengenakan biaya tambahan untuk pembayaran dengan kartu kredit.
Si mas hanya mengangkat bahu. Pasti dia juga tak dapat menjawab karena ini merupakan kebijakan dari sonohnya.
Akhirnya aku keluarkan kartu debit BCA. Untung aku punya kartu debit.. Hahaha… ternyata aku masih untung.
(By the way hari ini waktu mau berangkat kerja, bokap yg kebetulan lagi di rumah memberi tahu kalau ban kiri belakang agak kemps. Jadi mampir dulu ke tukang tambal ban. Ternyata ada 8 paku. Untung ban nggak langsung kempes. .. Tiap malam aku pulang lewat tol. Bayangkan kalo mobil kempes pes malam2 di jalan tol.. Untung cepat ketahuan…)

Updating: Tadi aku ke Dharmais dan tanya apakah bisa bayar obat dengan kartu kredit tanpa kena biaya tambahan. TERNYATA SUDAH BISA. Petugas di kasir malah bilang kalo dia nggak tau bahwa dulu ada biaya tambahan.

Sunday, September 14, 2008

Despite breast cancer diagnosis, women care for loved ones first

Perempuan yang mengetahui kalau dirinya terkena kanker payudara seringkali enggan memberitahu orang lain, terutama keluarganya.
Mereka bisa menutup-nutupinya keadaan yang sebenarnya hingga berbulan-bulan dengan alasan tak ingin membuat keluarga panik.
Contohnya Claudine. Ketika dokter memberitahu bahwa dirinya positif menderita kanker, ia tidak segera meneruskan kabar itu kepada keluarganya.
Claudine yang ketika itu berusia 34 tahun dan lajang tidak mempunyai asuransi kesehatan dan ia tak ingin membuat mereka khawatir.
“Lebih baik tidak usah mengatakannya demi kebaikan kita semua,” katanya. “Saya hanya ingin melindungi keluarga saya—terutama orang tua.”
Ada penelitian yang menunjukkan bahwa ketika perempuan membutuhkan dukungan, banyak dari mereka yang justru menyembunyikan diagnose kanker atau tak mengatakan yang sebenarnya untuk meyakinkan orang lain bahwa mereka tidak sakit atau tidak rapuh walaupun sebetulnya begitulah keadaan mereka.
Meskipun penelitian ini diadakan di Amerika seperti yang dilaporkan The Oregonian edisi hari Minggu, 14 September 2008, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa keadaan seperti ini juga terjadi di Indonesia.
Hasil dari penelitian itu menunjukkan bahwa perempuan terlalu sibuk memikirkan bagaimana perasaan orang lain sampai-sampai mereka tidak mendapatkan dukungan emosi yang diperlukan.
“Mereka tidak menyampaikan (diagnosa dokter) apa adanya supaya orang yang mendengarnya tidak kaget,” kata Grace J. Yoo, sosiolog medis dari Biobehavioral Research Center, San Francisco State University.
Kanker payudara dapat memicu berbagai emosi termasuk rasa takut mati, kehilangan kendali, keinginan menyendiri, rasa putus asa dan depresi. Tapi penelitian terhadap 174 perempuan di Bay Area, California, baru-baru ini menunjukkan bahwa mereka sulit sekali menyampaikan apa yang dirasakan—terutama kepada keluarga.
Hal ini berlaku dalam kultur, etnis dan kelompok umur yang berbeda karena dalam setiap masyarakat perempuan diharapkan untuk mendahulukan orang lain. Dan mereka tak ingin menjadi beban, dikasihani dan menghindari stigma.
Karena itu, ada yang menyampaikan informasi tentang kanker yang dideritanya dengan pendekatan “kita dapat mengatasinya.” Ada juga yang mengambil pendekatan “cheerleader” dengan menghimbau semua orang agar menjadikan kabar itu sebagai dorongan bagi mereka untuk menyantap makanan yang lebih sehat, berhenti merokok dan melakukan pemeriksaan mamografi.
Kembali ke soal Claudine, diagnosa dokter cukup berat, ia terkena kanker payudara stadium 2 B dan harus menjalani kemoterapi, operasi dan radiasi.
Beberapa bulan sebelumnya ia mendapati benjolan sebesar kelereng di payudara kanannya.
Ketika pada akhirnya orang tuanya tahu, mereka panik – betapa tidak, seorang tante Claudine meninggal karena kanker payudara. Claudine berusaha menenangkan mereka bahkan ketika kemoterapi menyebabkan ia kehilangan rambut indahnya.
Ia ingin menangis sejadi-jadinya. “Tapi di rumah, saya merasa bahwa saya harus kuat, jadi saya memakai topeng untuk menyembunyikan berbagai emosi”
Ibunya yang tinggal di luar kota datang dan membantunya. Claudine juga bertemu dengan kelompok pendukung (support group) dan berteman dengan sesama penyintas kanker.
Penelitian Grace J. Yoo menunjukkan bahwa hubungan yang paling menguntungkan bagi penderita kanker datang dari kenalan yang membuat mereka dapat bercerita dengan terbuka tanpa beban, dan yang menanggapi dengan baik serta rasa prihatin.
Ia berpendapat bahwa mereka memerlukan lebih banyak orang yang dapat mengulurkan tangan ketika diperlukan.
“Mereka perlu orang yang telah mengalami semua proses ini. Mereka perlu penyintas kanker yang dapat menawarkan dukungan tanpa penghakiman dan teror."
Penderita kanker memerlukan orang untuk berbagi tanpa perlu terbebani oleh peran yang mengharuskan mereka "melindungi", "mengasuh" atau "mendidik" lawan bicaranya.
Claudine mengatakan bahwa meskipun beberapa temannya telah tiada, ia merasakan banyak sekali manfaatnya saling mempedulikan satu sama lain.
“Memang sangat sedih kalau ada yang meninggal,” katanya, “tapi ada pelajaran yang berguna: We need to take care of ourselves. Kita juga perlu memperhatikan diri kita sendiri.

Di Jakarta, ada kelompok pendukung penyintas kanker payudara, CISC (Cancer Information and Support Center), yang dapat memberikan dukungan bagi mereka yang membutuhkan. Alamatnya: http://cancerclubcisc.wordpress.com/

Sumber artikel:
http://www.oregonlive.com/special/oregonian/index.ssf?/base/news/122056351074240.xml&coll=7&thispage=2

Tuesday, September 2, 2008

Obat kanker gratis

Hah? Yang bener aja…. Jaman sekarang mana ada barang gratis. Apalagi obat kanker kan mahal.
Tapi ini beneran. Aku mendapatkan 1 dos Femara berisi 30 tablet dengan cuma-cuma alias gratis.
Ceritanya begini. Tgl. 15 Agustus 2008 ketika bu dokter melihat bahwa ada penyebaran baru di tulang, ia menyuruhku melakukan CT scan untuk melihat apakah ada organ tubuh lain yang kena. Kalau ada yang kena, maka aku harus menjalani kemoterapi. Kalau tidak ada, maka ia menganjurkan aku berhenti minum obat Aromasin dan menggantikannya dengan Femara.
“Kita punya program gratis 1 boks Femara untuk pasien yang baru pertama kali minum obat ini,” kata dr. Tan Sing Huang dari National University Hospital di Singapura.
“Tapi nggak tau ya, apakah ini khusus untuk pasien yang disubsidi (maksudnya, warga Singapura) atau bisa untuk semua,” ia menambahkan.
Untuk memastikannya, ia lalu menelpon bagian farmasi. Ternyata tak ada aturan bahwa program itu hanya ditujukan untuk orang Singapura.
Jadi aku bisa mendapatkan 1 boks gratis.
NUH juga bekerja sama dengan perusahaan obat yang memproduksi Zometa. Setiap pasien yang membeli 2 boks, mendapatkan gratis 1 boks. Sayang sekali, program ini hanya berlaku bagi warga negara Singapura.
Karena hasil CT scan lumayan baik, maka aku tak perlu kemo dan mulai minum Femara.
Selain itu, infus bulanan dengan Zometa untuk menguatkan tulang harus terus dijalankan. Sedangkan suntikan Zoladex yang tadinya dilakukan setiap 3 bulan sekali diubah frekuansinya menjadi sebulan sekali.
“Ada penelitian yang menyebutkan kalau suntikan tiap bulan lebih efektif daripada tiga bulan sekali,” kata bu dokter.
Dosisnya sih sama. Kalau tiga bulan sekali, yang dipakai adalah Zoladex ukuran 10,8 ml. Untuk suntikan sebulan sekali, dosisnya 3,6 ml.
Besok lusa adalah jadwalku untuk infus Zometa, sekalian suntik Zoladex. Aku SMS pak Didit dari Apotik Prima untuk memesan obat.
Harga Zometa masih sama, Rp 3.275.000. Ini paling murah dibandingkan dengan harga di tempat lain, termasuk Apotik Grogol dan apotik di RS Dharmais.
Bulan lalu harga Zoladex dosis 10,8 ml adalah Rp 3.735.000. Jadi kalau dosis 3,6 ml, seharusnya 1/3 juga harganya. Tapi pak Didit memberi aku harga Rp 1.486.000. Wah, kok mahal ya? Aku cek Apotik Grogol, harga di sana Rp 1.420.000. Jadi aku tawar seperti harga di Apotik Grogol, dan pak Didit balas 'ok' (seharusnya aku menawar kurang dari harga Apt Grogol ya? Wah dasar bukan tukang nawar nih… ).
Sedangkan harga Femara di Apt Prima adalah Rp 1.765.000 per boks, lebih murah dari harga yang ditawarkan Apt Grogol, yaitu 1.805.000.
Selain itu aku juga harus minum 2 tablet CDR Fortos tiap hari. Kemarin beli di Giant Rp 26.250. Kalau di Carrefour Rp 28-ribuan. Di Apt Prima, setelah ditawar, harganya turun dari Rp 27 ribu menjadi Rp 26 ribu. Padahal bulan Juni atau Juli yll aku beli di Giant harganya masih Rp 23-ribuan. Cepet juga naiknya ya.
Sayang sekali, obat-obat itu nggak dijual di Yayasan Kanker Indonesia, padahal ia menyediakan obat-obat untuk kemoterapi. Kalau ada, pasti harganya lebih murah karena disubsidi.
Lebih bagus lagi kalau dokter atau RS di sini, seperti halnya kolega mereka di Singapura, bekerjasama dengan perusahaan obat untuk memberikan paket-paket menarik seperti program “beli dua gratis satu” untuk Zometa, dan “gratis satu boks pertama” untuk Femara. Syukur2 bisa “beli satu gratis satu” untuk Zoladex.
He..he..he…maunya sih… begitu…
Malahan kalo bisa sih maunya ya.. gratis semua… Seperti di Cuba atau Brunei Darussalam yang kabarnya semua biaya kesehatan termasuk obat ditanggung pemerintah.

Sunday, August 31, 2008

Yuniko Deviana enjoys her life fighting cancer

Can people with cancer enjoy life? Ask Yuniko Deviana and she will surely tell you they can.
Yuniko, who was diagnosed with breast cancer in 2002, now feels healthy and happy. In her productive life, Yuniko travels a lot while sharing her knowledge as a management trainer.
As a cancer survivor, Yuniko also shares her experience on how to deal with the disease.
Yuniko eats healthy foods, spends enough time to get rest and pays attention to her mental health. "Enjoying life, positive thinking and maintaining peace at heart. This is my formula for better mental health," Yuniko said.
Working out is a must, but Yuniko admits she is still struggling to get exercise regularly. She prefers reading books or listening to music.
Yuniko loves books on psychology and philosophy and reads fiction only occasionally.
"I don't have a favorite author. I even forget who writes what," she said, laughing.
Yuniko enjoys slow music to calm the soul, and loves listening to Whitney Houston songs, but cited REM's Everybody Hurts as one of her favorites. "It is so touching."
Yuniko, who obtained her masters degree in a private school of management in Jakarta, established the Cancer Information and Support Center (CISC) in 2003.
"This is my personal commitment. I want to do something for the cancer community," said the 42-year-old single mother with a little girl.
Yuniko recalls her own experience when she discovered a lump in her breast which later forced her to have a mastectomy and chemotherapy.
Had she found this lump sooner, Yuniko might not have needed to have this treatment.
The experience has led Yuniko to now encourage women to do regular breast examinations because the sooner the disease is detected, the easier it is to treat.
Anyone can contract cancer. It is a real problem for women all over the world (including Indonesia), but for many women the word "cancer" is something to avoid.
Once, when CISC was invited to talk about cancer in a government office, only six people showed up.
"We need to be smart in conveying our message about cancer. For example, we can talk about it in arisan (traditional social gatherings). People are usually happy to attend arisan," she said.
Yuniko said there was no use in regretting, denying or blaming anyone.
"Face it bravely and optimistically to beat it," says Yuniko.
Cancer seems to have inspired Yuniko to become a better person, to work harder in leading her life in a more meaningful way.
Now Yuniko wants to help people further by writing her book, I Have Cancer, It Doesn't Have Me. In this little booklet, Yuniko talks about her experiences, reflections and hopes as a cancer survivor. Unfortunately the book, which was published by Obor last year, is only available in the Obor bookstore in North Jakarta which mostly sells Christian books.
Yuniko is preparing another book which is expected to be available in general bookstores. Meanwhile Yuniko is actively running the CSIC, aiming to provide moral, emotional and social support for cancer patients and their families.
The cancer group organizes regular visits to Cipto Mangunkusumo Public Hospital in Central Jakarta and Mitra Keluarga Hospital in Kelapa Gading, East Jakarta.
Once in a month the group also hold a support session in Menteng, Central Jakarta.
Cancer patients who need help can call CISC volunteers at any time and, if necessary, volunteers can come to their place to provide support.
"Our activities run well because of the wonderful sincerity, tolerance, sisterhood and friendship. We see our differences as something beautiful," Yuniko said.
"My personal obsession is to make CISC an open, independent and heterogeneous organization with shared leadership," she said.
Despite its modest appearance, CISC has attracted quite a lot of people. Its cancer survivor gathering held early this year was attended by between 300 and 400 people. But Yuniko does not know how many members or volunteers it has because "they come and go".
The group is currently in need of volunteers who are technologically savvy, to make its plain website (http://cancerclub.wordpress.com) more attractive.
"We don't know how to do it," Yuniko said.
Yuniko may not know much about web design, but she does have many strengths of her own. CISC has good rapport with professional medical organizations, cancer organizations, hospitals and doctors thanks to Yuniko's soft-spoken, tactical approach.
Regarding public complaints about unprofessional doctors Yuniko urges patients to remain patient. "Let's be realistic. Doctors are not perfect. If you don't have the information you need because the doctor is not in a good mood, just leave and come back later," she said, suggesting that patients should also try to find information they need from various sources before seeing a doctor.
Yuniko believes Indonesia has many good doctors but said patients need to choose carefully to find one they are comfortable with.

I wrote the story for The Jakarta Post, published Sunday Aug.31, 2008.

http://old.thejakartapost.com/detailfeatures.asp?fileid=20080831.C01&irec=1







Siti Aniroh wants cancer survivors to be brave and smart


A lawyer asked his client: "Now that you have been acquitted, will you tell me truthfully? Did you steal the car?"

"After hearing your amazing argument in court this morning, I'm beginning to think I didn't," the client replied.

Although this is a lawyer joke, such an exchange would not be so out of place in the real world. After all, it's easier to find bad lawyers than good lawyers. Lawyers, as well as police, judges and prosecutors, have poor images in this country. So, when Siti Aniroh was diagnosed with cancer last year, some people related it to her being a lawyer.

"When I got cancer, many said: 'That's because you didn't earn your money in a righteous way -- that's why you have the disease'," said the 32-year-old, who became a lawyer after she graduated from law school 11 years ago.

She felt as if people were accusing her of distorting facts, making false testimonies and making money unlawfully.

"I felt so bad. I can't deny that many of my friends might do that, but thank God, I didn't," she said. She later quit her job, not because of public criticism, but out of love of her family.

It was her husband, Iwan Setiyawan, who suggested she resign so she could have more time to herself and with their only child, Awan Cahya Aditya.

Ani said he had asked her to resign long before she became sick and that they had often argued over the matter. "I learned a lot from him. He knew that I was stressed out at work. I know he wants the best for me," she said.

"I am fully aware that it is really hard for a lawyer to uphold idealism. I decided to resign being fully aware (of my decision). I longer need (professional) status. I don't need to pursue material wealth.

"Maybe it is time for me to do good things for others without expecting anything in return. God willing, He will give me prosperity in other areas," said Ani, who is now an active member of the Cancer Information and Support Center (CISC).

Ani first felt the lump in her left breast in March 2006. Her tiring journey to find the right doctor and her experiences in fighting cancer are journaled in her recently published book No one is happy to have cancer, be brave and smart.

Being outspoken, she strongly criticized doctors who showed little empathy toward patients or treated them rudely -- a bitter reality the Indonesian medical world currently faces.

Instead of accepting her criticism, a doctor who was upset by her book said Ani was just trying to justify her own foolishness through her writing.

Even though it is hard to find books on breast cancer in local bookstores, Ani said no publisher wanted hers. Eventually, she gave the softcopy to a publisher and was told: "We have hundreds of books to publish and they are more interesting ... If you want, you can wait."

A brave, smart, determined and persistent young woman, Ani published the book independently with support from her family and friends, including those from the CISC.

Throughout her illness, she has received support from the CISC, and was eventually invited to become a volunteer.

"The CISC is colorful ... there, information is flowing, and there are valuable lessons about life you'd never find in any school," she said.

During the group's gathering, members discuss many things besides cancer and also take part in recreational activities, including dancing and singing.

Ani speaks about cancer whenever a suitable occasion arises, including on the radio and at a local women's Koran reading class.

To maintain her health, the cheerful woman eats healthy food and practices meditation and yoga at least three times a week at home.

Yoga helps strengthen the mind as well as the body -- both of which are crucial in defeating cancer.

She also loves gardening, which is known to be therapeutic for cancer sufferers. The patience required in gardening helps a sufferer strengthen his resolve in coping with chemotherapy treatment and unfriendly doctors.

Besides, watching plants grow can inspire cancer patients to live.

Ani was born on Sep.7, 1977, in Cilacap, Central Java, and went to a high school in Yogyakarta. She studied law at the Indonesian Islamic University, where she majored in corporate and banking law. She moved to Jakarta in 1988 upon graduating.

When she was a child, Ani wanted to become an agriculture engineer because her father was a farmer, and was also interested in becoming an accountant as her mother worked as a trader.

She studied law "by accident" because it was the only department which accepted her after she failed in her enrollment tests in several other places.

"So I just let it flow," said Ani.

And she also lets her life flow. She is steadfast in her fight against cancer.

http://old.thejakartapost.com/detailfeatures.asp?fileid=20080831.C01&irec=1

Wednesday, August 20, 2008

Satu jam di CT Scan

Hari ini aku menjalani CT scan lagi atas anjuran bu dokter. Ia merasa prihatin setelah melihat hasil bone scan-ku hari Jumat, 15 Agustus 2008. Dibandingkan dengan 3 bulan yll, ternyata ada penyebaran baru. Karenanya ia menyuruhku CT scan untuk melihat apakah ada organ tubuh seperti paru-paru, ginjal atau liver yang terkena.
Aku membuat janji dengan Dr. Hadi, ahli radiologi di RS Pluit, untuk CT scan hari Rabu, 20 Agustus 2008 jam 13:00. Sepuluh menit menjelang waktu yang ditentukan, suster menelpon untuk memastikan kehadiranku. Waktu itu aku baru saja keluar dari pintu tol Pluit. Agak mepet waktunya, karena jalan tol Cawang macet luar biasa dan di tengah jalan tiba-tiba mobilku tersendat-sendat. Khawatir kalau mogok di jalan tol, aku segera keluar di pintu tol Rawamangun. Lalu mengisi bensin sebanyak 10 liter. Sebetulnya bensin masih ¾ penuh, jadi ini spekulasi saja. Mudah2an kalau bensin penuh, bisa lancar kembali. Minggu lalu mobil baru masuk bengkel dan filter bensin sudah diganti, tetapi belum kuras tangki karena tak ada waktu. Ahh.. untung lancar… ! Leganya....
Tapi di Pluit ternyata aku sempat nyasar sehingga terlambat hampir 30 menit.
“Sudah menjalani pemeriksaan darah?” tanya petugas di depan pintu bertuliskan Radiologi.
“Kalau belum, nanti harus diperiksa dulu untuk melihat apakah fungsi ginjal baik. Ada tambahan biaya Rp 40 ribu,” si mbak yang mengenakan seragam merah cerah menjelaskan.
Biaya CT scan thorax, abdomen dan pelvis dengan kontras masih sama seperti akhir tahun lalu, yaitu Rp 4.570.000. Alatnya canggih dengan metode 64 slices.
Layanan bagian radiologi bagus. Setelah berganti baju pasien, aku mengikuti suster ke ruang CT scan. Aku berbaring, lalu lengan kiri ditusuk untuk diambil darahnya dan jarum infuspun ditancapkan untuk memasukkan obat.
Meja tempat aku berbaring perlahan-lahan bergerak masuk ke dalam mesin scan. Proses scan awal hanya beberapa menit. Lalu aku disuruh minum obat satu cangkir penuh dan duduk di ruang tunggu. Lumayan juga, perut yang keroncongan jadi kenyang. Hehehhe… Dari pagi aku hanya makan sepotong roti isi selai strawberry bikinan Sari Roti yang rasanya menurutku kok nggak terlalu enak. Lapar ditahan karena harus puasa.
“Silakan sambil nonton TV,” kata suster yang ramah sambil menyalakan televisi. Acaranya Sesame Street yang di Indonesia-kan menjadi Jalan Sesama (bukan Jalan Wijen ya?).
Setengah jam kemudian suster yang lain datang dan ia mengantarku ke ruang scan yang rasanya kian dingin saja.
“Silakan berbaring miring ke kiri,” katanya dengan sopan.
Tibalah saat yang sangat tidak menyenangkan. “Disodomi,” begitu istilah salah satu suster berusaha bercanda tapi ... ah, cuekin aja. Obat dimasukkan melalui dubur. Nggak enak banget… Rasanya seperti mau mules. Tapi yach, apa boleh buat, terpaksa ditahan.
Setelah itu badanku kembali masuk ke mesin scan.
“Tarik nafas…,” begitu aba-aba lantang dari operator mesin.
Aku menarik nafas dalam-dalam sambil berusaha menerapkan tips dari ahli yoga yang menasehati kita agar jangan bernafas terlalu cepat. Lebih lama kita menarik nafas, lebih baik. Eh, belum selesai menarik nafas, sudah ada perintah “Tahan…” lalu disambung dengan “Bernafas biasa…” Prosesnya sangat cepat.
Scan diulang beberapa kali dan obat juga dimasukkan melalui lengan kiri. Ketika obat masuk, rasa sedikit nyeri dan panas menjalar ke seluruh tubuh sementara bagian anus terasa seperti digigit semut karena pengaruh obat.
Untung... ini hanya sebentar.
“Selesai,” kata suster.
Waktu aku melihat jam, ternyata seluruh proses dari saat aku ditusuk hanya makan waktu 1 jam. Cepat sekali..
“Jarumnya tidak dicabut, biarkan dulu selama 15 menit supaya nanti kalau ada reaksi pusing atau mual kita bisa memasukkan obat melalui sini,” kata suster.
Biarpun ada jarum infus tertancap di lengan kiri, tapi tidak terasa sakit.
Suster menganjurkan aku minum air banyak-banyak agar obat larut.
Setelah minum air hangat 1 gelas, aku ke toilet karena perut melilit. Sebagian obat keluar, tapi hanya sebagian saja… Sementara aku berjuang sambil merenungkan nasib negara (hehehe.. emangnya.. !), suster memanggil-manggil namaku. Rupanya ia khawatir karena aku terlalu lama di WC….
Baik juga ya susternya…
Karena reaksi tubuhku bagus, tak ada rasa mual atau pusing, jarum infus lalu dicabut dan aku diperbolehkan pulang.
“Hasilnya bisa diambil besok setelah jam 1 siang,” kata suster.

(Sementara itu tadi aku mengirim email ke bu dokter, melaporkan kalau sudah CT scan dan hasilnya baru akan ada besok. Tak lama kemudian datang balasannya: "ok, all the best for the results." Bu dokter pasti sibuk, tapi kok sempet2nya ia membalas emailku ya... Yach.. aku memang beruntung bertemu dengan banyak orang baik.)

*** News Update: Hasilnya sudah keluar, thank God... ternyata lumayan ok, ga gitu jauh dengan pemeriksaan sebelumnya. :)

Applegate Underwent Breast Removal to Stop Cancer

Actress Christina Applegate Had Double Mastectomy, Is Now 'Free' of Cancer
By BRIAN O'KEEFE and LEE FERRANAug. 19, 2008
A month after being diagnosed with breast cancer, actress Christina Applegate, 36, is "100 percent" cancer-free, she told "Good Morning America's" Robin Roberts in an exclusive interview.
"I'm clear. Absolutely 100 percent clear and clean," the star of ABC TV's "Samantha Who?" said. "It did not spread -- they got everything out, so I'm definitely not going to die from breast cancer."
But the price she paid for that peace of mind was high.
To be sure the cancer would be completely excised, and that there would be a reduced chance of it returning despite Applegate testing positive for the BRCA1 breast cancer gene, the actress opted to have both her breasts removed in an operation known as a prophylactic double mastectomy, even though cancerous lumps were only found in one breast.
"My decision, after looking at all the treatment plans that were possibilities for me, the only one that seemed the most logical and the one that was going to work for me was to have a bilateral mastectomy," Applegate said.
Three weeks ago, she had the dramatic operation rather than undergoing other longer-term treatments like radiation or chemotherapy.
"I didn't want to go back to the doctors every four months for testing and squishing and everything. I just wanted to kind of get rid of this whole thing for me. This was the choice that I made and it was a tough one."
Though she will be undergoing breast reconstruction surgery over the next eight months, Applegate said the emotional toll has been heavy.
"Sometimes, you know, I cry. And sometimes I scream. And I get really angry. And I get really upset, you know, into wallowing in self-pity sometimes. And I think that it's all part of the healing," she said.
But Applegate is healthy and calm now, due to both her unflappible sense of humor -- "I'm going to have the best boobs in the nursing home" -- and the powerful inspiration she gained from her mother, Nancy Priddy, a repeat breast cancer survivor.
"She's been sort of this quiet warrior in the back and has been a great support, and just telling me that I was going to be OK. And I knew I was going to be OK. I've watched her," she said.

Saturday, August 9, 2008

Nobody Happy With Cancer, Be Brave and Smart.

Satu buku bagus telah terbit. Judulnya Nobody Happy With Cancer, Be Brave and Smart.
Buku ini ditulis oleh Siti Aniroh, 31, seorang penyintas kanker yang tahun lalu menjalani kemoterapi dan mastektomi.
Meskipun judulnya berbahasa Inggris, tapi isinya ditulis dalam bahasa Indonesia dengan gaya bertutur yang santai dan mudah dicerna.
Dalam buku ini kita dapat mengikuti kisah Ani melawan kanker, mulai dari saat ia mencari dokter yang pas, saat kemoterapi dan saat pemulihan. Semuanya diungkapkan dengan jujur dan lugas. Menyentuh dan memberdayakan.
. Kita dapat merasakan betapa marah dan frustrasinya Ani saat ia menghadapi dokter yang memperlakukannya dengan kasar dan dingin tanpa rasa empati sedikitpun.
. “Saya bukan hanya merasakan sakit kepala, tapi perut saya juga mules, wajah saya terasa sangat panas karena menahan marah, dan ini yang teramat tidak masuk akal saya dengar dari mulut seorang dokter ahli kanker,” tutur Ani.
. Tujuh dokter telah dijumpainya, tapi Ani masih belum mendapatkan titik terang akan penyakit yang dideritanya. Ia baru memperoleh informasi yang jelas dan layanan medis yang tepat dari dokter ke delapan. Sayangnya, dokter ini praktiknya di Singapura.
. Pengalaman Ani merupakan cambuk bagi tenaga medis di Indonesia. Jelas bahwa Indonesia mempunyai banyak dokter yang baik, tapi di sisi lain masih perlu adanya peningkatan layanan, baik dari sisi personal maupun professional.
. Membaca buku ini, kita juga dapat merasakan keharuan ketika Ani berkisah tentang rambutnya yang gugur karena kemoterapi dalam bab berjudul “Botak tapi Keren”.
. “Banyak hal yang membuat saya menangis dan tertawa karenanya,” tulisnya.
Ia tersenyum saat anaknya yang berusia 6 tahun, Awan, berkata: “Wah… keren Bunda.”
. Tapi suatu saat Awan marah sekali setelah Ani menyambutnya tanpa penutup kepala ketika ia pulang sekolah dengan mobil jemputan.
. “Awan tidak suka Bunda botak, teman-teman di mobil mengejek dan aku malu…”
. Dengan sedih, Ani mencoba memberikan pengertian bahwa tak perlu ia risau karena teman-teman itu mengatakan demkian tanpa mengerti apa yang terjadi pada kita.
. Kesedihan Ani tak menyurutkan semangatnya dalam menghadapi semua ini. Ia tabah, berpikir positif dan memiliki rasa humor yang tinggi.
. Hal lain yang digarisbawahi oleh Ani adalah hak-hak pasien. Ia menekankan bahwa pasien kanker harus memperjuangkan hak-hak mereka, yaitu:
1. Hak atas informasi.
2. Hak memberikan persetujuan
3. Hak memilih dokter
4. Hak memilih Rumah Sakit
5. Hak atas rahasia kedokteran
6. Hak menolak pengobatan
7. Hak menolak tindakan medis tertentu
8. Hak untuk menghentikan pengobatan
9. Hak atas second opinion
10. Hak melihat rekam medis (medical report).
. Buku ini perlu dimiliki oleh pasien dan keluarganya, dokter dan semua orang yang peduli akan kanker.

Pada hari Sabtu, 16 Agustus 2008 bertempat di The Peak, Sudirman Apartment, Jl. Setiabudi Raya 9, Jakarta, akan diadakan acara Bedah Buku dengan menampilkan penulis, dr. Walta Gautama, SpB.Onk, dan Yuniko Deviana.
Yuniko adalah penyintas kanker, pendiri Cancer Information Support Center dan penulis buku I Have Cancer, It Doesn’t Have Me.
Untuk informasi harap hubungi 021 98672298, 08129926719 atau 0816822868.



English Version:

Breast cancer survivors write inspiring books

T. Sima Gunawan, The Jakarta Post, Jakarta

Nobody Happy With Cancer, Be Brave and Smart
Siti Aniroh
PT Awan Tisani
2008

I Have Cancer It Doesn't Have Me
Inspirasi yang membangkitkan Daya Hidup
R. Yuniko Deviana
Penerbit Obor
2007

Books on breast cancer written by local authors are hard to find despite the fact breast cancer is a real problem facing millions of women all over the world, including many in Indonesia.

One of these rare books, Nobody Happy with Cancer, Be Brave and Smart, has just been launched and is available in bookstores. The 32-year-old author, Siti Aniroh, underwent chemotherapy and a mastectomy in 2007.

Ani, as she is fondly called, writes about her experiences with courage, right from the first moment when she found a lump in her left breast. She tells her touching and empowering story with clarity and honesty.

We feel how frustrated and distressed Ani became when she met a cold-blooded oncologist who treated her rudely.

Instead of responding to her questions about her disease, the doctor denigrated her, saying a housewife like her was not supposed to ask critical questions

"Not only did I have a headache, I also had butterflies in my stomach. My face became hot because I was holding back my anger; it was unthinkable such words could come out of an oncologist's mouth," said Ani.

Ani is a housewife. She also used to work as a lawyer before she resigned and becomes active as a cancer volunteer.

After seeing seven doctors, she still did not really know what the matter was. With her eighth doctor's visit, she finally got clear information and the right treatment.

Unfortunately, the doctor practices in Singapore.

Reading Ani's account, we empathize when she relates how her hair falls out from the chemotherapy in the chapter "Bald but Cool".

"So many things made me cry and laugh," said the author, who has never lost her great sense of humor.

She laughed when her six-year-old son commented on her bald head, "Wow, that's cool, Mom".

But one day her son got mad at her after some of his friends saw her without any head covering.

"I don't like your bald head. My friends made fun of me and I was embarrassed."

Ani tried to make him understand he should not have been upset because his friends did not know what happened to her.

The difficulties did not discourage her fighting spirit. She remains strong and persists with her efforts to lead a healthy and positive life.

Losing hair is one of the negative side effects of chemotherapy because the drugs kill not only cancer cells but also healthy cells. Other side effects include nausea, mouth ulcers, fatigue, diarrhea, and increased perspiration.

In Ani's case, she felt extreme pain in her bones, especially her molars, and general body aches which made her groan and cry. Somehow she managed to cope with the torturing pain.

Ani does not mention in her book that different people may react differently to chemotherapy. This writer is also a cancer survivor who dealt with hair loss and mouth ulcers but continued to work and even drove to the hospital for the regular chemotherapy treatments.

This account gives no scientific explanation about cancer. It is purely about a cancer survivor's experiences. In telling how she struggled against the disease, Ani underlines the importance of patients knowing their rights. Those rights include the right to clear information, the right to choose the best doctor, the right to ask for a second opinion and the right to reject medical treatment.

Ani is the second cancer survivor in Indonesia to have written a book about it. Yuniko Deviana is the author of I Have Cancer, It Doesn't Have Me and the founder of the Cancer Information and Support Center. Aniroh has followed in her step, taking an active part in the organization as well.

Even though both books have titles in English, they were written in plain Indonesian, in the first person to be easy to understand.

Like Ani's story, Yuniko's is also informative and inspiring. Diagnosed with breast cancer in 2002, Yuniko offers many useful, practical tips every cancer patient needs to know.

The book gives answer to many questions like "Why me?" and "Can I be cured?"

She opens her book with: "'How happy are those people who are healthy. Not like us.' I often hear my cancer survivor friends saying this to themselves."

Her experiences as a cancer survivor who is constantly helping others with the disease makes her understand how they feel and what they need.

"Learn to accept cancer as something ordinary, not to reduce the seriousness of the treatment but to prevent ourselves from overreacting," she said.

Both of these books can help cancer patients, their families and friends as well as doctors and others who care about cancer.

http://old.thejakartapost.com/detailfeatures.asp?fileid=20080831.H14&irec=14