Thursday, December 22, 2011

Kidung pelipur lara




Aku menangis. Hiks hiks hiks.. Sediiih sekali rasanya. Sakiiit... Nyeriii... Nyut.. nyut.. nyut... di bagian dada /punggung kiri. Selain itu juga sakiiit hatiiii.. memikirkan bencana yang menimpaku ini.



Yach, pokoknya sedih deh. Berbagai upaya sudah dicoba tapi belum berhasil mengusir penyakit yang menjengkelkan ini.



Hiks hiks hiks… air mata kembali bercucuran.



Tuhan.. oh Tuhan… tolonglah aku…



Setelah menyebut nama Tuhan, aku merasa lebih tenang. Pelan-pelan aku mengatur nafas. Tarik nafas... lalu hembuskan pelan2. Lumayan... Rasanya enakan.



Lalu aku menyanyi.



Apaaa?? Menyanyi??? Pasti pada bingung dengernya.



Aku bukan biduan. Suaraku sama sekali nggak bisa dibandingkan dengan Syahrani yang belakangan banyak bikin orang sirik karena jambulnya, eh karena dia dapat kesempatan menyambut David Beckham. Tapi belakangan ini aku suka menyanyi untuk menghibur hati dan memuji Tuhan. Lagunya adalah lagu-lagu rohani lama, lagu sekolah Minggu dan lagu gereja.



Menyanyi ternyata bisa menghilangkan rasa sakit.



Ketika aku menjalani radiasi di RS Dharmais bulan Mei yll, aku juga sempat kesakitan karena harus berbaring di meja besi yang keras. Lalu aku menyanyi, lagu apa saja seingatnya. Mulai dari Halo-halo Bandung dan Ampar-ampar Pisang sampai Wave. Tapi aku menyanyi dalam hati. Komat kamit saja. Soalnya kalo kedengaran petugas, malu juga... hihihii....



Oh ya, ngomong2 soal pemeriksaan... hari Selasa, 13 Des 2011 yll aku menjalani pemeriksaan PET/CT Scan di RS Gading Pluit.



Hasilnya dikirim lewat kurir dan hari Sabtu sudah sampai di tanganku. Good news-nya tidak ada penyebaran di otak. Bad news-nya, ada penyebaran baru di tempat lain, seperti paru-paru dan tulang-tulang lain.



Untuk memastikannya, hasil PET/CT scan dibawa saudaraku ke RD Dharmais untuk ditunjukkan ke bu dokter.



”Nanti jam 17:30 kamu disuruh telepon ke dokternya,” kata saudaraku sepulang dari RS.



Jam 17:26 aku telepon bu dokter. Ia menyarankan bahwa aku harus menjalani kemoterapi selama 6x dengan jarak masing-masing 3 minggu.



Apa boleh buat. Kalau itu yang terbaik, mau nggak mau ya mesti dijalani. Seperti biasa, aku mau daftar untuk kelas 3. Tapi ternyata tidak bisa dilakukan segera.



”Tapi waiting list ya. Ada 30 orang yang juga mau kemo. Mungkin nanti bulan Januari baru bisa,” kata dokter.



Baiklah, dok. Sampai jumpa bulan depan.



Sementara itu aku terkadang masih bergumul antara meratapi nasib atau mensyukuri segalanya.



Kondisi badanku ini tak menentu, kadang2 rasanya enak, kadang serasa remuk redam. Nah, kalau lagi enak, aku tentu bersyukur atas banyak hal. Aku bersyukur, biarpun sakit, aku masih bisa bekerja. Untung bos baik hati, tidak keberatan ketika aku mengajukan jam kerja baru, dari jam 8-12 siang. Selain itu aku juga banyak mendapat dukungan saudara dan teman yang sudah seperti saudara. Juga ada dokter dan suster yang penuh perhatian.



Tapi kalau lagi pegel setengah mati atau lagi diserang rasa nyeri. Pinginnya ngomel dan marah2 atau nangis. Dalam kondisi seperti itulah aku merasakan betapa pentingnya kedekatan dengan Tuhan. Jadi .. dalam kondisi menderita, kita harus bersyukur karena hal itu membuat kita lebih dekat pada Tuhan. Lebih kuat, lebih tahan banting...

Sunday, November 27, 2011

Badai belum berlalu





Pernah dengar soal kunyit putih? Pernah dong, ya? Sudah lama juga aku mendengar bahwa kunyit putih bisa menangkal kanker. Dulu, tahun 2004, waktu baru didiagnosa terkena kanker, aku juga pernah mencobanya, tapi nggak serius.



Belakangan ini aku banyak menerima pesan, baik melalui surel maupun BBM, mengenai resep anti kanker yang mengandung kunyit putih.


Begini bunyinya:



OBAT HERBAL UNTUK PENDERITA KANKER



Ada obat herbal kanker dari 3 orang penderita yg sdh berhasil sembuh (2 orang Kanker payudara yg sdh menyebar, kanker tulang sdh stadium 4 dan tdk bisa bangun sekarang sdh jalan). Jika ada anggota keluarga atau kenalan yg kena kanker dan sdh buntu jalan penyembuhan, tdk punya dana, sebaiknya pakai resep ini. Ibu Carla yg sdh mulai disembuhkan yg menyebarkan resep ini & dia berkata, sering saya lihat orang CA meninggal bukan karena kankernya tapi karena effek samping kemo yg sangat keras membuat kondisi pasien menjadi tambah lemah setiap kali sehabis kemo. Sering yg sdh sembuh tulangnya menjadi osteoporosis atau rapuh (termasuk gigi) karena kerasnya radiasi/penyinaran juga obat2an kemo.
Bahan2 :
1. 150 gr Kunyit Putih
2. 150 gr Kunyit Biasa
3. 250 gr Biang Kunyit
4. 25 gr Jahe Merah
5. 100gr Jahe
6. 125gr Temu Ireng
7. 125gr Temu Putih
8. 2-3bh Pinang Muda (hijau)
9. 15-21lbr daun sirih (jumlah tergantung besar kecil daun sirih)
10. 30 gr Asem Jawa
11 Gula Batu (sesuai selera)
Cara membuatnya:
1) Bersihkan, sikat, cuci, lalu dikeprek bahan2 segarnya
2) Rebus dgn 3.5L air dalam panci khusus utk masak jamu/obat cina/enamel
3) Sampai tinggal 2L air
4) Diminum pagi - siang - malam seperti jamu/air biasa, 2L jatah minum utk 2 hari
simpan d kulkas
5) Kalau pancinya kecil boleh direbus dgn 2 L air sampai 1 L utk 2 x rebus
Selamat Mencoba, tolong disebar bagi para penderita semoga banyak orang bisa disembuhkan...


Kebetulan aku bernasib sama seperti yang digambarkan di atas. Kanker payudara stadium 4 dengan penyebaran ke tulang dan sudah nggak bisa jalan. Karena kemiripan itu, aku jadi tertarik untuk mencobanya.


Kalo kunyit biasa, jahe dan asem Jawa sih gampang, di tukang sayur ada. Gula batu juga bisa dibeli di supermarket. Tapi kemana aku harus mencari bahan2 yang lain?


Kemana…. Kemana… kemana…. Kayak lagu Ayu Ting Ting yang cakep itu .. hehehehee…



“Di sekitar sini nggak ada yang jual. Lu mesti ke Senen atau Jatinegara,” kata teman yang tinggal tak jauh dari rumahku di kawasan Bintaro.


Waduh, repotnya. Eh, tapi ternyata ada saja jalan… Temanku yang lain berbaik hati mencarikan bahan2 itu dan mengantarnya ke rumah.



Siiiip. Hari Rabu minggu lalu si mbak membuat jamu sesuai petunjuk. Lalu aku coba minum segelas.



Hoeeekk.. hoeeekk… Aduuh mak, pahitnya luar biasa… Aku mau muntah. Dengan susah payah aku coba habiskan segelas, tapi nggak berhasil. Masih sisa sedikit. Aku sudah nggak tahan, mataku sampai basah oleh air mata karena menahan sejuta rasa.


Segelas saja nggak sanggup, apalagi 1 liter seperti yang tertulis dalam resep!



Malam hari aku coba minum lagi, tapi malah tambah parah. Baru terkena mulut, sudah mau muntah. Yaaahhh, aku menyerah…



Apalagi aku sedang mengalami kesulitan dalam mengunyah/menelan. Jadi kalau minum harus sedikit2. Kalo kopi sih enak diminum dikit2 sambil dinikmati. Lha kalo jamu, weleh2… mana tahan.



Ngomong2 soal kesulitan dalam mengunyah/menelan, problem ini muncul belum lama. Tepatnya pada 22 November 2011. Sejak hari itu aku harus berhati2 kalau makan/minum. Harus pelan2 dan dikit2. Lidahku tidak dapat bergerak bebas, terutama ke arah kiri. Jadi aku mengunyah dengan gigi/rahang kanan saja.



Ketika aku tanyakan ke bu dokter onkologi, jawabannya mengejutkan. Otot/syaraf melemah karena diduga ada “penjalaran ke kepala” dan aku dianjurkan konsultasi ke ahli syaraf. Hiiiiiii suereeeeem.



Meskipun khawatir, tapi aku mencoba bersikap tenang….



Kebetulan ketika itu aku juga tengah menjalani terapi pijat refleksi. Memang sih, kemungkinannya kecil bahwa pijat refleksi dapat membuatku berjalan kembali. Tapi ya tak ada salahnya dicoba setelah temanku bercerita bahwa saudaranya yang kena stroke dan lumpuh bisa berjalan kembali setelah menjalani terapi itu.


Si mas tukang pijat tidak menjanjikan kesembuhan, tapi akan berusaha.



“Terapi harus dilakukan setiap hari karena kondisi sudah parah. Kalau dalam 2 atau 3 minggu tak ada perubahan, maka terapi akan dihentikan,” katanya.


Tentang syaraf di rahang yang melemah, ia mengatakan bahwa itu dapat dicoba dipulihkan melalui pijat refleksi.



Yang pernah menjalani terapi pijat ini pasti merasakan kesakitan ketika telapak kaki dipijat. Tetapi aku tidak merasa apa2, karena kakiku memang mati rasa. Terapi sudah berjalan sekitar 10 hari ketika hari Sabtu kemarin si mas pemijat berhalangan datang. Seharusnya ia datang jam 4, tapi beberapa menit setelah jam 4 ia mengirim SMS yang mengatakan bahwa ia tak dapat datang karena ada resepsi.


“Resepsi kok mendadak, seharusnya kan dia memberitahu pagi2 supaya nggak ditunggu2,” komentar si mbak yang merawatku.



Bener juga, kok si mas pijit ini nggak serius ya? Aku juga ingat komentar bu dokter yang mengatakan bahwa pijat refleksi tidak bisa memulihkan syaraf yang lemah akibat penekanan tumor. Akhirnya, aku mengambil keputusan yang kejam…, kusudahi saja terapi pijat ini…


Hmm.. ternyata aku ini orangnya nggak tekun ya. Minum jamu baru sekali sudah berhenti. Terapi pijat refleksi belum 2 minggu sudah berhenti… Habis, bagaimana…



Aku ingat, dua atau tiga tahun yang lalu syaraf kakiku melemah sehingga aku pincang selama sekitar setahun. Kondisi itu pulih setelah dokter syaraf memberiku suntikan neurobion dan vitamin2.



Lalu aku telepon pak dokter itu. Siapa tahu, dia bisa membantu dengan cara yang sama.



“Nggak bisa, ini kasusnya lain,” katanya.


Waduh. Gimana nih. Aku jadi tambah pusing. Belakangan ini kepalaku memang suka pusing. Aku menduga, ini karena posisi saat tidur yang kurang nyaman. Tapi bisa juga kepala pusing karena penjalaran tumor.



Kenapa ya, kok aku ini nggak sembuh2, malah tambah memburuk. Untunglah, Tuhan selalu memberiku kekuatan dan penghiburan. Haleluya …!! Selain itu dukungan teman2 dan sodara2 juga banyak membantu mengobarkan semangat ’45. Ayo.. maju terus pantang mundur… jangan kalah sama atlet SEAGames…



Minggu depan aku akan menjalani pemeriksaan. Tadinya aku merencanakan untuk bonescan saja. Tapi dengan adanya perkembangan terakhir ini, dokter menganjurkan PET scan atau paling tidak MRI kepala.



Hasilnya akan digunakan sebagai rujukan untuk melawan si kanker busuk yang nggak tau diri ini. Sudah diusir2…eeeh.. masiiih saja nggak mau pergi..


Doakan ya, supaya hasilnya bagus…

Monday, October 31, 2011

Kanker dalam Kabinet SBY

Dugaan sebagian orang bahwa Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih bakal diganti dalam perombakan kabinet SBY ternyata keliru.

Bu Menkes yang kinerjanya dianggap terganggu akibat kanker paru-paru yang dideritanya ternyata tetap aktif bekerja keras dan jabatannya diperpanjang. Memang ada perubahan dalam kementerian itu. SBY memberi hadiah bu Menkes seorang wakil menteri. Bukan ia saja yang kini punya wakil. Ada 19 wakil menteri yang dilantik SBY tgl. 20 Oktober 2011 sehingga kabinet ini didiagnosa menderita obesitas.


Pengangkatan wakil menteri baru belum tentu dapat meningkatkan kinerja kementerian ybs, tapi sudah pasti membebani negara dari sisi keuangan. Jelas dong, negara harus membayar bukan saja gaji para pejabat tinggi itu tapi juga staf mereka. Belum lagi berbagai fasilitas yang harus disediakan untuk mereka. Siapa yang membiayai kalau bukan negara? Dari mana negara mendapatkan uang kalau bukan dari rakyat....?


Terlepas dari itu semua, ada juga yang menarik. Dahlan Iskan, bos group Jawa Pos yang menjadi Dirut PLN sejak akhir 2009 adalah Menteri Badan Usaha Milik Negara yang baru. Menariknya bukan karena ia dulunya wartawan, tetapi karena ia pernah menderita kanker hati stadium lanjut.


Empat tahun yang lalu ia menjalani operasi transplantasi hati di Tianjin First Center Hospital di Cina. Ia harus dibius selama 18 jam dan untunglah, semuanya berjalan lancar. Operasi sukses dan kesehatan Dahlan berangsur membaik.


”Sekarang saya sehari harus rutin minum obat 2 kali, jam 5 pagi dan 5 sore. 2 jam sebelumnya dan 1 jam sebelumnya tidak boleh makan apapun kecuali air putih," jelas Dahlan seperti dikutip detik.com bulan Juli 2011.


Selain minum obat seumur hidup, Dahlan juga rutin melakukan pemeriksaan darah setiap dua minggu. Selain itu setiap 10 hari ia juga harus melakukan imunisasi agar temperatur hati tetap normal.


Salut. Dahlan berhasil mengalahkan kanker dan bahkan mengukir prestasi dalam pekerjaanya.


Bu Menkes juga tampak terus aktif seolah tak terganggu oleh penyakitnya. Ia tampil segar dalam acara memperingati Hari Stroke Sedunia di Bunderan HI, 29 Oktober 2011.


Kanker memang kejam dan mematikan. Tapi pengobatan yang tepat, olah raga teratur, diet yang baik dan doa yang tulus dapat menghambat pertumbuhannya dan bahkan membuat kanker keok.


Tuesday, October 11, 2011

Yang Heboh di Bulan Istimewa

Bulan ini bulan istimewa karena merupakan Bulan Peduli Kanker Payudara atau Breast Cancer Awareness Month yang diperingati di seluruh dunia.




Eh, bener nggak sih seluruh dunia memperingatinya? Jangankan seluruh dunia, coba lihat di sekitar kita. Apa ada acara terkait dengan topik itu?


Memang belum banyak orang yang mengetahuinya, misalnya dibandingkan dengan Hari Aids Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember. Tahun lalu, dalam rangka meningkatkan kepedulian akan kanker payudara ada jalan santai yang meriah di Jakarta. Tahun ini ada apa ya? Biasanya sih paling tidak ada seminar-seminar untuk meningkatkan kesadaran akan kanker payudara. Tapi belum ada info yang tersebar luas mengenai acara yang bakal digelar atau mungkin sudah dilaksanakan di sini.


Kalau di luar negeri sih sudah heboh... Selain jalan santai atau lari gembira, banyak bazaar serta acara asyik yang menyedot perhatian banyak orang. Misalnya, ada pemutaran 5 film pendek yang berkisah tentang kanker payudara melalui komedi dan drama. Film yang disiarkan oleh stasiun televisi Lifetime di Amrik hari Senin kemarin ini ditangani oleh artis terkenal Jennifer Aniston sebagai produser eksekutif sedangkan sutradaranya adalah Jennifer serta Demi Moore, Alicia Keys, Patty Jenkins dan Penelope Sheeris.


Bulan ini petugas pemadam kebakaran di Port Huron dan Marysville, Michigan, mengenakan kaos merah jambu di balik seragam mereka. Kaos itu juga dijual dalam usaha untuk menggalang dana.


Di Inggris, tepatnya di Lexington, ada acara Think Pink Cele-bra-tion yang bakal digelar tgl. 13 Oktober 2011. Paling sedikit 15 kutang unik berseni dipamerkan melalui fashion show dan akan dilelang.


Seorang penyintas kanker (cancer survivor) Linda Maloley menampilkan dua bra yang dibuat dengan inspirasi pengalaman pribadinya.


Ia sendiri sudah didiagnosa menderita kanker tiga kali.


”Nakutin deh, tapi hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah mengobatinya dengan cara yang tepat,” katanya.


Ia menciptakan ”Flat Busted”, bra berbentuk dompet dengan cek dan tagihan yang menyembul keluar, sebagai refleksi keprihatinannya atas biaya yang harus ditanggung penderita kanker.


Karyanya yang lain adalah ”Support Bra” yang dibuat sebagai ungkapan rasa terima kasih atas dukungan yang diterimanya ketika berjuang mengatasi kanker payudara untuk kedua kalinya. Bra itu terbuat dari bunga-bungaan dan dedaunan. Setiap helai bunga ditempeli foto atau initial orang yang telah membantunya.


Sementara itu di kota Kingston yang terletak di Pennsylvania, Amrik, hari Sabtu minggu lalu ada iring-iringan unik yang diikuti sekitar 300 orang dan ribuan bra. Mereka berjalan sambil membawa bra yang diikatkan satu sama lain, melewati jembatan di kota itu dalam acara yang disebut Bra Across the Bridge.


Bra juga digunakan sebagai media dalam kampanye peningkatan kesadaran dan kepedulian atas kanker payudara di Savannah, Georgia. Rencananya rangkaian bra akan digantungkan di berbagai perempatan utama di kota itu. Tapi acara itu terancam batal karena pemerintah kota keberatan karena menganggapnya Herselera rendah dan nggak pantas diadakan di tempat umum, seperti yang diberitakan oleh Savannah Morning News.


Memang bra merupakan barang yang mengundang perhatian publik. Di Indonesia sendiri pernah ada pameran bra, tapi tidak ada hubungannya dengan kanker payudara.


Bagaimana kalau dalam rangka Bulan Peduli Kanker Payudara diadakan arak-arakan dengan peserta membawa bambu runcing yang ujungnya diikat dengan bra?


Atau bayangkan betapa hebohnya kalau ada acara pengibaran bra di Monas. Pasti seru sekali... Hanya saja mesti siap2 diprotes MUI, FPI dan Satpol PP....

Friday, September 23, 2011

Ketika Kanker Mengusik Karir

Menteri Kesehatan Endang Sedyaningsih terancam bakal diganti karena kinerjanya terganggu akibat kanker yang dideritanya.

Ia merupakan satu dari 10 menteri bermasalah yang disebut-sebut akan terkena perombakan kabinet bulan Oktober 2011.

Menurut Lingkaran Survei Indonesia, mereka memicu anjloknya tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan SBY-Boediono. Selain Endang, Menteri BUMN Mustafa Abubakar juga dianggap kurang bagus kinerjanya karena sakit jantung.

Menteri lainnya adalah Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar yang menuai kontroversi gara2 memberi remisi untuk koruptor.

Tapi yang lebih parah adalah skandal suap wisma atlet yang menyeret Menteri Pemuda Olahraga, Andi Mallarangeng, dan suap Kemenakertrans yang melibatkan Muhaimin Iskandar. Selain itu dugaan krisis moral melekat pada Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa, Menteri Perhubungan Freddy Numberi,dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin
Zahedy Saleh.


Sedangkan yang dianggap memiliki kinerja terburuk adalah Menteri Pertanian Suswono yang gagal mengendalikan harga beras dan Menteri Agama Suryadharma Ali yang tak becus mengatasi soal aksi kekerasan atas nama agama.

Seberapa buruk sih kesehatan Bu Menkes sehingga kinerjanya merosot? Entahlah, yang jelas ia masih tampak sehat dan sibuk beraktivitas.

Ia terdeteksi terkena kanker paru2 melalui pemeriksaan pada bulan Oktober 2010, setahun setelah dilantik menjadi menkes. Berita itu sendiri tersebar ke masyarakat luas di awal 2011 dan konon kabarnya kankernya sudah mencapai tingkat lanjut.

“Sekarang ini orang memandang kanker seperti vonis (mati). Padahal, kanker itu sama seperti penyakit lainnya. Jadi, tergantung kita bagaimana menyikapi penyakit ini,” kata Endang dalam jumpa pers yang digelar terkait dengan merebaknya kabar buruk itu.

Meskipun demikian, doktor lulusan Harvard School of Public Health yang berobat hingga ke Guangzhou, China, ini masih bersyukur.

“Semua saya syukuri. Tentu saja bukan hanya mensyukuri saat nikmat saja, lalu selesai. Ketika dikasih penyakit, saya juga terima,” kataya.

Dalam kesempatan itu ia juga mengatakan bahwa kegiatannya tak terganggu.

Emang orang yang terkena kanker bisa tetap aktif bekerja?

Ya, tergantung…. Tergantung pada gantungannya. Seberapa parah penyakitnya dan seberapa besar semangat pasien serta dukungan keluarga dan lingkungannya.

Kalau penyakitnya sudah sembuh, tentu tak ada masalah.

Biarpun katanya belum ada obat kanker yang betul2 ampuh, nyatanya ada lho yang bisa sembuh. Contoh klasik adalah Rima Melati, mantan artis penderita kanker payudara yang sekarang menjadi pengusaha bristo bersama suaminya Frans Tumbuan. Contoh lain adalah ibuku yang sukses mengalahkan kanker rahim. Ia sekarang umurnya 83 tahun dan masih kelihatan sehat.

Sayangnya tidak semua pasien berhasil mengusir si kanker busuk. Nenek dari pihak ayah meninggal karena kanker payudara yang kemudian menyebar ke tulang. Adik perempuan ayah meninggal karena kanker usus. Adik lelaki ayah yang sekarang berusia 70-an tahun terkena kanker otak yang mulai menyerangnya sekitar 20 th yll. Secara fisik, ia tampak sehat tetapi sejak lama sudah pikun dan penglihatannya agak terganggu.

Bagaimana denganku sendiri? Jreng jreng jreng …. (mestinya pake musik nih, biar keren seperti sinetron).

Aku terdeteksi menderita kanker payudara beberapa hari setelah lebaran di akhir bulan
November 2004. Setelah menjalani mastektomi alias pengangkatan payudara kanan dan kemoterapi, pemeriksaan menunjukkan bahwa aku sudah “bersih” alias tak tampak adanya sel2 kanker di payudara.

Tapi bukan berarti aku betul2 sembuh. Pada bulan April 2007, diketahui bahwa kanker muncul kembali dan kali ini menyerang tulang. Genderang perang pun kembali ditabuh dan perlawanan sengit berlangsung untuk mengalahkan si kanker busuk.

Meskipun kanker masih banyak bercokol di tulangku, termasuk tulang iga, tulang punggung, tulang punggung, tulang pundak, tulang panggul dll, aku masih dapat beraktivitas seperti biasa. Masih bisa ngantor dan mengerjakan tugas dengan baik, Hanya saja kegiatan fisik memang agak terganggu karena dokter wanti-wanti agar aku tak mengangkat barang yang berat2 dan lari marathon….

Perubahan drastis terjadi pada pertengahan bulan April 2011. Kakiku tiba2 saja tak dapat digerakkan. Hari Kamis pagi masih terasa normal, Sabtu masih bisa berjalan terseok-seok, Minggu sudah lumpuh total!!! Operasi yang dilakukan di RS Dharmais pada hari Selasa tak dapat memulihkan kondisiku. Hiks hiks hiks..

Sebetulnya sebulan sebelumnya sudah ada tanda2 buruk. Dadaku pernah terasa sakit sekali ketika aku berjalan, tetapi sakit itu kemudian hilang. Punggungku juga sakit jika duduk lama tanpa sandaran atau sandaran kursinya keras. Hal itu dapat diatasi dengan bersandar pada sandaran kursi yang empuk.

Tanda-tanda lain adalah rasa sakit di dada ketika aku mengambil nafas pada saat berenang. Aku
sempat rajin berenang lho… seminggu 2-3x.

Duduk di sandaran kursi empuk dan berhenti berenang merupakan solusi instan yang semu. Seandainya waktu itu aku langsung ke dokter, mungkin kondisiku sekarang bisa lebih baik. Tapi ah, tak ada gunanya menyesalinya. Nasi sudah menjadi bubur. Mendingan sekarang buburnya dibumbui, dikasih garam, kecap, ayam, tungcai, bawang goreng,…hmmmmm lezaatttt…

Lho, kok malah jadi ngomongin bubur ayam.. bikin laper aja nih…Ya sudah, ayo kembali ke laptop… eh ke cerita uamanya.
Kendati lumpuh, badan bagian atas, dari dada sampai kepala, masih oke. Jadi sebetulnya aku masih bisa bekerja di rumah.
Ngomong2 soal kerjaan. Dulu…. begitu lulus dari Jurusan Sastra Inggris UGM, aku langsung meniti karir di kantor tempatku bekerja saat ini. Tahun 2003, setelah bekerja selama hampir 19 tahun di tempat yang sama, aku mulai jenuh. Maka aku mengundurkan diri sebagai karyawan tetap dan memilih menjadi freelancer saja. Enak kan, nggak terikat….

Eh, setahun kemudian aku kena kanker… Yaaah… tau begitu, aku nggak jadi keluar supaya ada yang menanggung biayanya… Tapi nggak apalah, Tuhan itu baik. Rejeki ada aja. Selain menulis, aku juga mulai masuk ke dunia penerjemahan yang ternyata asyik juga. Pernah juga aku menerjemahkan tiga novel roman Harlequin, tapi capek sekali menerjemahkan buku. Rasanya kok nggak kelar2 dan honornya ga seberapa.

Eh lagi, tahun 2006 aku ditawari untuk kembali bekerja di kantor lama. Ketika itu aku sudah berpikir bahwa aku perlu penghasilan tetap untuk membeli obat. Jadi dengan senang hati aku terima tawaran itu. Tentu saja statusnya beda. Sekarang aku hanyalah karyawan kontrakan tanpa hak untuk menerima penggantian biaya kesehatan. Memang begitulah aturan mainnya untuk mereka yang bukan karyawan tetap.

Pekerjaan utamaku menuntut aku untuk datang ke kantor setiap hari. Sejak lumpuh, aku tak bisa ngantor. Tapi pihak manajeman baik lho, aku masih digaji. (Tengkiyuuu, bos).

Kontrakku akan segera berakhir. Kapan itu bos sempat mampir menjenguk dan mengatakan bahwa kontrak akan diperpanjang dengan new working arrangement sesuai dengan kapasitasku. Hal itu ada akan dibahas kemudian tapi sampai sekarang belum ada kejelasan mengenai tugas yang bakal.

Sambil menunggu pekerjaan dari kantor, aku membantu teman menerjemahkan artikel atau laporan. Bekerja itu terapi. Dengan bekerja, otak terasah dan kegiatan yang positif dan produktif itu bisa membuatku melupakan rasa pegal.

Bu Menkes pernah mengatakan bahwa ia pasrah kalau terkena perombakan dalam kabinet karena itu merupakan hak presiden. Sama bu, aku juga pasrah kalau misalnya manajemen kantor nggak memperpanjang kontrakku…

Apa pun yang terjadi, kita hadapi saja dengan positif. Jika satu pintu tertutup, masih ada pintu lain yang terbuka. Kalau semuanya tertutup, masih bisa lewat jendela. Kalau jendelanya tertutup? Lewat genteng aja… hahahhaa… atau lewat cerobong asap seperti Santa Klaus.

Wednesday, September 14, 2011

MAU APA SEKARANG?



Mau apa sekarang, setelah berbulan-bulan tergeletak di tempat tidur karena lumpuh?



Mau nangis meraung-raung menyesali nasib? Mau marah dan menghujat Tuhan yang memberikan cobaan berat ini? Mau bunuh diri karena merasa menderita dan putus asa?



Atau sebaliknya, bersyukur karena masih berkesempatan makan ketupat di hari raya Lebaran kemarin dan bisa turut merayakan ultah sahabat di bulan September ini? Bersyukur karena masih bisa menikmati hangatnya sinar mentari (baca: pemanasan global dengan suhu yang semakin meningkat), kicauan burung di pagi hari (baca: gonggongan anjing tetangga di malam hari) dan gemercik aliran air sungai (baca: kucuran air kran di dapur ketika mpok mencuci piring)?



Pilih yang mana?



Kalau mau yang gampang, ya marah2 atau menangis saja. Sulit rasanya mengucap syukur sementara jelas2 lagi sakit. Eh, tapi biar badan sakit, untung lho pikiran masih sehat….



Menurut teori, begitu kita bangun tidur kita harus mengucap syukur pada Tuhan yang masih memberi kita kesempatan untuk menikmati hari yang baru. Memang teori biasanya lebih mudah daripada praktik. It is easier to say than to do.



Setiap malam aku selalu terbangun karena badan pegal akibat berada dalam posisi yang sama (baca: telentang) selama berjam-jam. Ini karena aku kesulitan menggerakkan badan ke kiri dan ke kanan tanpa bantuan orang lain. Begitu terjaga, aku tidak selalu dapat dengan mudah tidur kembali. Kalau orang lain bangun tidur badan segar, nah, yang sering terjadi padaku ini sebaliknya. Dalam keadaan seperti itu, lebih gampang mengeluh daripada bersyukur.



Tak jarang aku mengalami pergumulan batin. Tapi syukurlah, pikiran yang sehat membantu menentukan pilihan yang positif. Rasa sedih, marah dan putus asa justru akan membuat kita semakin terpuruk. Sebaliknya, rasa syukur membawa rasa damai, tenang dan pasrah dalam menjalani hidup ini.



Banyak orang yang mengatakan bahwa ketika kita senang, kita sering melupakan Tuhan dan baru pada saat kita susah, kita ingat Tuhan. Benar juga… Dalam kondisi seperti ini aku merasa lebih dekat dengan Tuhan. Agamaku Kristen. Meskipun jarang ke gereja, aku percaya pada Tuhan. Sekarang ini aku ikut mailing list “doa satu menit” dan setiap hari mendapat kiriman doa dan ayat2 Alkitab serta renungan harian melalui email. Kiriman jarang terlambat, malah bisa terlalu cepat. Misalnya, dalam satu hari bisa terkirim materi untuk dua atau tiga hari dan kadang2 doa yang sama dikirim oleh orang yang berbeda. Ah, namanya juga gratis, ya dinikmati saja…



Ini adalah doa hari Selasa, 13 September 2011 (yang telah disesuaikan sehingga bersifat universal).



Tuhan,

bantulah aku agar aku dapat memiliki sikap yang baik,
positif, penuh harap, gembira, dan bijaksana pada saat ini.
Tingkatkan semangatku dan segarkanlah aku dengan kegembiraanMu.
Semoga kegembiraanMu berkembang di dalam hatiku pada saat ini
secara berlimpah sehingga ia mengalir juga kepada orang lain
yang melihatku.

Dan pada saat aku berbicara,
semoga kegembiraan daripadaMu akan terus menular
kepada orang lain.

Aku memuji namaMu dan memuliakan Engkau
sebagai penopang kepalaku pada saat aku lemah.
Engkau adalah Allah yang kekal,
yang telah memberiku hidup yang sangat indah.

Di dalam namaMu aku bersyukur dan berdoa.

Amin

Monday, August 8, 2011

Saved by the bell

Aku adalah orang yang sangat mandiri. Segala sesuatu sedapat mungkin kulakukan sendiri. Jangan sampai merepotkan orang lain.

Tapi itu dulu... Ketika aku masih sehat dan kuat.


Keadaan berubah 180 derajad di bulan April 2011. Tumor ganas yang kuderita sejak 2004 semakin merajalela, menyerang sumsum tulang belakang sehingga syaraf terganggu. Operasi yang dilakukan tak mampu memulihkan kondisiku sehingga bagian bawah badanku, dari perut ke ujung jari kaki tak dapat digerakkan.


Sekarang aku menjadi sangat tidak mandiri. Hampir segala sesuatu tergantung pada orang lain.


Keadaan ini sudah berlangsung selama tiga bulan lebih. Bulan pertama berlalu dengan relatif lebih mudah karena saat itu aku masih di RS. Sebagai pasien yang diopname setelah menjalani operasi, rasanya sah-sah saja kalau tergeletak di ranjang dan tergantung pada dokter serta perawat, termasuk perawat pribadi yang menemaniku.


Di rumah, keadaanku tak lebih baik, dalam hal kemandirian. Aku masih harus berbaring terus di ranjang, atau duduk di kursi roda. Sebetulnya paling enak ya tidur2an di ranjang... tapi kalo kelamaan, aduh mak, pegalnya.... Dan yang paling menjengkelkan, biarpun pegal, aku nggak bisa mengubah posisi sendiri. Untuk mencapai posisi miring yang betul2 nyaman, perlu bantuan orang lain. Apalagi kalau badan melorot, perlu dua orang untuk memperbaiki posisiku dengan menaikkan badan sehingga kepala berada di ujung tempat tidur.


Badan biasanya melorot setelah miring ke kiri atau ke kanan. Kalau sudah melorot, sedih deh. Rasanya bener2 seperti terkapar tak berdaya. Badan nggak bisa ditegakkan dalam posisi setengah duduk, apalagi duduk... Kalau ditegakkan, maka posisi dagu akan menempel di leher.


Ranjangku ini adalah ranjang khusus pasien yang bisa dinaik-turunkan dengan memutar engkol yang tersedia. Ini manual. Ada juga ranjang elektrik yang dilengkapi dengan remote control, tapi harganya sampai 3x lipat ranjang manual. Mahal sekali.


Seandainya aku tidur di ranjang elektrik, kalau badan melorot, tetap saja perlu orang untuk membantu menaikkan. Pada saat dinaikkan, yang ditarik bukan badannya, tapi kain lapisan yang memang dipasang di atas seprei. Lebih praktis.


Tenaga manusia juga diperlukan untuk memindahkan aku dari ranjang ke kursi roda. Dalam hal ini, mereka mengangkat aku dengan menarik sepreinya.



”Sebetulnya ada alat khusus untuk memindahkan pasien,” kata bu dokter.


Alat ini namanya patient lift. Harganya selangit, setinggi harga ranjang elektrik. Di sini juga susah dicari dan tidak populer. Orang jarang memerlukan karena biasanya di rumah ada banyak orang sehingga selalu tersedia tenaga untuk mengangkat pasien jika diperlukan.


Lain halnya denganku. Dulu aku tinggal berempat berserta kedua orang tuaku dan seorang sodara di rumah mungil berlantai dua. Aku dan sodaraku tidur di lantai atas. Karena sakit, nggak mungkinlah tidur di atas… Untungnya sodaraku punya rumah yg letaknya tak jauh dari sana. Tadinya rumah yg juga kecil mungil itu dikontrakin, tapi kebetulan kemarin lagi kosong. Jadi ia mengajakku pindah ke sana.


Kita tinggal berdua di sana dengan ditemani seekor kucing dan oh ya, mbak yang merawatku. Ada juga mpok yang pagi2 datang untuk membersihkan rumah, mencuci dan masak. Kalau mpok sudah selesai bekerja, tinggallah aku bersama si mbak karena sodaraku ada di kantor sedangkan si kucing hobinya main di luar rumah.



Aku mencoba browsing di internet, mencari info tentang patient lift yang manual, syukur2 ada yang second sehingga harganya terjangkau. Tapi hasilnya nihil.


Tergantung pada alat atau pada orang lain memang nggak enak. Itulah sekarang yang kualami. Tapi...yach bagaimana... mau nggak mau mesti dijalani... Sudah rutin aku minta tolong si mbak...


Aduh pegel nihhhh, tolong miringin badan ke kiri, tolong mau telentang, naikin sedikit ranjangnya biar posisi kepala enakan, naikin badannya biar nggak melorot... (tapi kalo yg ini harus ber-2) ambilin minum, ambilin makan, potongin buah, ambilin laptop dll.....
Temanku punya ide brilian. Supaya aku nggak capek manggil2 si mbak, dibelikannya aku bel. Mirip bel di losmen kecil di luar negeri yang kekurangan resepsionis sehingga tamu perlu menekan bel untuk memanggil si pemilik. Jadi kalau perlu sesuatu, tinggal .. ting…. (nggak pake ..tong....). Cukup satu kali saja karena bunyinya cukup nyaring hingga terdengar di seluruh rumah… Keren ya?





Tuesday, August 2, 2011

Menjelang Kematian?


Beberapa waktu yll seorang teman bertanya: “Kalau baca SMS pusing nggak?”


“Oh, sama sekali enggak,” jawabku.


Pertanyaan serupa datang lagi kemarin dari teman lain.


”Kamu bisa baca (buku)?”


”Bisa dong....”


Rupanya mereka sangat prihatin dengan kondisiku dan mengkhawatirkan bahwa keadaanku sudah sedemikian parahnya sehingga kepala bisa puyeng hanya karena membaca SMS, apalagi buku.


Mereka pasti menganggap bahwa sebagai penderita kanker stadium 4 yang sudah lebih dari tiga bulan tergeletak di tempat tidur, pasti kondisiku sangat mengenaskan. Apalagi ditambah dengan bagian badan bawah tubuh dan kaki yang tak dapat digerakkan. Hiiiihh serem....


Memang betul aku kena kanker. Memang betul penyakit itu sudah memasuki stadium 4 karena sel2 kanker yang tadinya bercokol di payudara sudah menyebar ke berbagai bagian tulang, termasuk tulang belakang. Memang betul sumsum tulang belakang juga tak luput dari serangan panyakit ini sehingga syaraf terganggu sehingga kaki terkulai layu, lumpuh.


Tapi itu bukan berarti bahwa sepanjang hari aku hanya terkapar tanpa daya, memandang langit2 kamar dengan pandangan kosong sambil meratapi nasib.


Tuhan Maha Baik. Aku masih dapat membaca, menulis dan berhitung… Sebagai penulis, sekali-kali tulisanku masih muncul di media tempatku bekerja (dan tentu saja di blog). Sebagai penerjemah independen, aku masih dapat mengerjakan tugas dengan baik jika ada order pekerjaan.


Syukurlah aku masih dapat menjalani hidup yang berkualitas, walau penuh perjuangan. Perjuangan ini masih berlanjut terus dan sekarang ini berbentuk kemoterapi. Dulu aku sudah pernah menjalani kemoterapi sebanyak dua kali. Berbeda dengan kemo sebelumnya yang dilakukan dengan infus, kali ini aku menjalani kemo oral. Obat cukup diminum saja.


Nama obat kemo ini capecitabine dengan merek Xeloda. Di RS Dharmais harganya tak kurang dari Rp 43 ribu per kapsul sedangkan di Apotek Grogol Rp 38 rbu dan di salesman langgananku Rp 37 ribu. Obat diminum pagi dan malam, masing2 sebanyak tiga kapsul. Obat ini diminum selama dua minggu berturut2, lalu setelah ada jeda selama seminggu, obat kembali diminum dalam jangka waktu yang sama. Proses ini diulang sampai delapan kali atau 24 minggu alias enam bulan. Karena aku mulai minum obat tgl. 2 Juli 2011, maka kemo kali ini kira2 baru akan selesai Januari tahun depan. Lama ya?


Berbeda dengan kemo melalui infus, kemo oral lebih sedikit efek sampingnya dan tidak mengakibatkan kerontokan rambut. Pengaruhnya pada setiap orang berbeda. Ada yang mual dan kehilangan nafsu makan. Aku sendiri waktu pertama kali minum obat itu merasa sangat tidak nyaman selama dua hari. Bukan rambut, tapi badan yang serasa mau rontok... Untunglah itu tak berlangsung lama.


Beberapa hari kemudian, badan terasa jauh lebih baik. Tadinya, sebelum kemo, aku sering merasa nyeri di dada kiri. Tapi rasa nyeri itu telah berkurang, bahkan sekarang sama sekali sudah reda.


Dulu aku selalu terbangun setiap malam... eh, pagi, sekitar jam 1... dan tidak dapat tidur sampai subuh karena kepanasan meskipun ruangan ber-AC. Kapan itu pernah aku bertanya ke dokter soal rasa panas yang sering menggangguku dan memperoleh jawaban: ”Itu karena penyakitnya.” Sekarang aku masih suka terbangun, tapi relatif lebih mudah tidur kembali.


Oh ya, aku juga minum air rebusan daun sirsak. Dulu daun sirsak kuperoleh dari teman yang mendapatkannya dari saudara yang memiliki pohon sirsak. Tapi kini daun sirsak banyak dijual setelah dikeringkan dan dipotong2 kecil serta dimasukkan ke dalam plastik. Sangat praktis. Seorang teman pernah memberiku satu dos daun sirsak kering tsb.


Konon kabarnya daun sirsak sangat bagus, lebih hebat dari kemo. Efek sampingnya adalah tubuh merasa panas. Jadi, apakah aku seringkali kepanasan karena minum rebusan air daun sirsak? Belum tentu. Karena suatu ketika aku berhenti meminumnya, tetapi badan tetap saja merasa panas.


Kembali ke awal cerita.... Teman yang menanyakan apakah aku pusing kalau membaca SMS ternyata punya niat tertentu. Sebelumnya ia menanyakan nomor PIN Blackberry, padahal aku nggak punya BB.


”Teman-teman sepakat untuk membelikan BB untukmu supaya kita bisa ramai2 ngobrol....,” katanya.


Aduh, baik banget teman2 SMA-ku itu.


Sedangkan teman yang menanyakan apakah aku bisa membaca (buku), datang ke rumah sambil membawa buah2an dan sebuah buku.


Sebelum pulang, ia menyerahkan buku yg masih terbungkus dalam kantong plastik.


”Banyak yang terbantu dengan buku ini,” katanya. “Jangan lihat judulnya,” ia menambahkan,


Setelah ia berlalu, aku ambil buku itu dari kantong plastik. Judulnya 10 Jam Menjelang Kematian.


Buku itu mengisahkan tentang pasien kanker yang oleh dokter divonis tinggal hidup 10 jam, tetapi ternyata ia bisa bertahan hidup bertahun2 kemudian, sampai sekarang. Resepnya: keteguhan iman pada Tuhan.

Monday, July 25, 2011

Ayo, angkat ….

Satu.. dua… tiga…. Bismillah….



Begitulah aba-aba yang terdengar setiap kali aku digotong untuk dipindahkan dari tempat tidur ke kursi roda dan sebaliknya. Sudah lebih dari tiga bulan aku terkapar di ranjang. Sejak terjadi penekanan tumor pada sumsum tulang belakang, syaraf terganggu sehingga bagian bawah, dari perut hingga jari2 kaki mati rasa. Tak dapat digerakkan.




Dengan kata lain, aku lumpuh. Oh, sungguh suatu hal yang diluar dugaan. Bayangkan saja, hari Kamis pertengahan bulan April aku masih kerja di kantor, tapi hari Minggu kedua kaki sama sekali tak bisa berfungsi. Hari Senin ke RS Dharmais dan hari Selasa langsung menjalani operasi agar kondisi tak menjadi lebih parah.


Yach, aku masih bersyukur karena dari dada ke atas, kondisi masih baik. Otakku sama sekali tak terganggu sehingga aku masih dapat berfikir dengan jernih. Jari jemari tangan juga masih berfungsi normal sehingga aku dapat ngeblog..


Yang paling berat adalah menghadapi kenyataan bahwa aku yang tadinya sangat mandiri kini menjadi sangat tidak mandiri. Segala sesuatunya banyak tergantung pada orang lain. Bahkan untuk memiringkan badan ke kiri dan ke kanan saja masih sering dibantu. Tiap pagi dan sore si mbak yang merawatku membantuku mandi.. eh, bukan mandi, tapi hanya menyeka tubuh saja… (Oh,… alangkah rindunya aku akan guyuran air…) dan mengganti pampers (kayak bayi saja….).



Berbaring terus menerus membuat badan pegal bukan buatan.


“Supaya tidak pegal, setiap dua jam sekali, usahakan agar miring ke kiri barang setengah jam, lalu miring ke kanan,” begitu nasihat dokter.


Duduk di tempat tidur atau di kursi roda juga merupakan cara untuk mengatasi rasa pegal. Hanya saja, aku harus memakai brace kalau ingin duduk. Brace ini kurang nyaman dipakai dan bahkan kadang2 rasanya sakit. Karena itu biasanya aku hanya tahan duduk di kursi roda sekitar 2 jam.



Diperlukan minimal 3 orang untuk mengangkatku: si mbak, si mpok (yang setiap hari membersihkan rumah dan memasak) serta anak/keponakan mpok. Repot ya...



”Rasanya tambah berat nih,” kata mpok.



Memang aku tambah gendut, terlihat dari pipi, leher dan perut yang membengkak. Ini karena aku nggak bisa olah raga, gerakan sangat terbatas. Padahal makanku nggak banyak, lho. Aduh, harus diet nih. Maka mulai hari ini aku mengganti nasi dengan kentang. Di samping itu tentu saja terus menghindari daging dan gorengan serta banyak makan sayur dan buah.

Sunday, July 24, 2011

By the way ... Please, just leave me alone!

The Jakarta Post Sun, 07/24/2011


It was a few minutes past noon when, through the window, I saw a woman approach the gate. Oh no, I didn’t want to meet “that woman”.

I immediately switched off the TV and closed my eyes, pretending to be asleep. And then I felt her touching my hand gently and saying softly, “Mbak, are you asleep? I brought your favorite food for lunch.”

I was surprised and relieved. She was my friend, not “that woman”.

“That woman” is an energetic young person I met several times two or three years ago during morning exercises in our neighborhood. She apparently learned I had returned home after being treated for cancer and recently visited me with a box of sanitary pads in her hand.

“Many people who suffered from cancer and other diseases are cured because of these sanitary napkins. They have negative ions that can cure many diseases,” she said.

A marketer for the product, she enthusiastically told me about the pads’ magical properties.

“They are very good. If you don’t believe me, call this doctor. Let me call him for you,” she said, pressing his number on her mobile phone and handing it to me.

“So, you have breast cancer. Stick a panty liner on your breast and you need to soak four ion chips in water, which you then drink,” the doctor said.

I was reluctant to try this weird treatment, but I did not have the heart to say no when she said, with tears in her eyes, “Please try this, I want you to recover. My sister died from cancer several years before I knew about this product. You should try this, please.”

So I later drank a glass of water with ion chips soaked in it.

When I told her my body often felt stiff because I had to lie in bed for hours, she was quick with a reply.

“Oh in that case, you should try our other product: a belt that will help you with the stiffness,” she said. “It is only US$90, but if you buy it under my name, it will cost you Rp 760,000 because I am a member, and later if you want to buy it you will only need to pay around Rp 600,000.”

“I will think about it,” I said.

“Health is number one. You should buy this belt, which is good for your health.”

I said nothing and she finally left but promised to drop by and call on me.

A few days ago she came to my house and when she found out I did not buy her words, she took back the sanitary napkins she had given me earlier.

In fact, she was not the first person to offer me a “magic” product to help me recover.

Earlier, a woman brought along several of my friends for a visit. She brought a bottle of aloe concentrate and two bottles of protein drinks, samples of her herbal products.

“They are very good in helping damaged cells recover. Many people who took them, including cancer patients, got well and became fit and healthy,” she said.

Since then, she has bombarded me every day with text messages, asking how I was doing.

As I finished the aloe concentrate, I sent her a text message saying that I would like to buy some. She immediately called and started to persuade me and a relative, who is also my caregiver, to join her in the business by becoming members.

She said that with a membership fee of Rp 800,000, we could receive large discounts on the drink. She spoke for hours before I finally got a chance to turn down her offer.

I suddenly felt sick and lost interest in her products.

— T. Sima Gunawan


Saturday, June 4, 2011

Acara di akhir pekan

Apa acara akhir pekan ini? Mau cari jajanan enak (tapi sehat) di mall? Berkebun? Menyiangi rumput liar dan merapikan tanaman? Yang jelas pasti nggak lupa ke Giant atau Carrefour untuk membeli wortel, apel dan tomat untuk di jus..jus..jus.


Tapi… itu semua tinggal kenangan...



Sekarang ini mobilitasku terbatas. Hmmm.... bukan hanya sekedar terbatas, tapi memang sudah tidak bisa mobile lagi. Sehari-hari tergolek di ranjang atau duduk di kursi roda.



Tapi bukan berarti nggak ada yg bisa dikerjain. Lha ini, aku lagi nulis buat blog alias ngeblog. Selain ngeblog, aku juga masih bisa bekerja, menulis, menyunting atau menerjemahkan artikel atau dokumen atau surat cinta....


Untung penyakit ini tidak menggerogoti kemampuanku otakku. Sungguh itu merupakan hal yang patut disyukuri... Secara fisik keadaanku mungkin tampaknya memprihatinkan, tapi secara mental aku sehat. Dan itu menjadi modal untuk menjalani hari-hari selanjutnya dalam hidup ini.



Menjelajahi dunia maya merupakan keasyikan tersendiri yang dapat dilakukan untuk mengisi waktu luang. Selain itu tentu saja banyak buku menarik yang bisa dibaca. Bukan hanya banyak, tapi buanyaaakkkk. Ketika aku di RS aku mendapat sejumlah besar buku dari teman2, termasuk Anas dari GPU yg memberiku puluhan buku. Trims ya teman2 semua..



Bukunya bermacam2. Ada thriller seperti The Girl with Dragon Tatooo, atau roman ringan seperti Just Friend. Ada yang terjemahan, ada yang asli dalam bahasa Inggris.


Jadi ingat nih suatu kejadian di RS… ada dua suster (dari RS lain yg ditugaskan di Dharmais selama seminggu) yg penasaran melihat aku selalu ditemani oleh buku yg judulnya bahasa Inggris. Ketika itu aku sedang membaca buku terjemahan Finishing Touch. Entah kenapa judulnya dibiarkan dalam bahasa aslinyg, sedangkan tulisan Sentuhan Terakhir tertulis kecil di sampul buku itu.


“Bahasa Inggris atau bahasa Indonesia?” suster yang satu berkata ke suster yang lain.


Saking penasarannya, ke dua suster itu dengan tidak sopannya melongok-longok melihat isi buku yang sedang kubaca.


“Ini judulnya bahasa Inggris tapi isinya bahasa Indonesia,” kataku memuaskan hasrat ingin tahu mereka.



”Ooh bahasa Indonesia....,” mereka mengangguk-angguk.



Selain membaca buku, kegiatan di akhir pekan (dan di hari2 lain) dapat juga diisi dengan nonton TV dan cable. Kalau ingin menikmatinya, tinggal klik aja tombol remote control.



Jadi, biar pun nggak bisa ke mana-mana, tetap asyik-asyik aja...


Happy Birthday

Happy birthday Sima... Semoga tetap semangat dan kembali beraktivitas seperti sediakala...


Selamat ulang tahun, mbak. semoga selalu dapat yang terbaik :)




Happy birthday Sima, may you always stay healthy, happy and fit in all the years to come!



Ucapan selamat ulang tahun datang bertubi-tubi, terutama melalui facebook. Entah berapa banyak jumlahnya. Pokoknya buanyakkkk sekali......Serasa jadi selebritis nih... Trims ya teman2 semua yg telah mengirimkan ucapan selamatnya.



Ulang tahun yg jatuh pada tanggal 31 Mei kemarin memang istimewa. Tadinya aku sudah khawatir bahwa pada ultah itu aku masih terkulai di RS karena sebelumnya dokter pernnah menyinggung kemungkinan bahwa aku perlu menjalani radio terapi untuk yang kedua kalinya. Radio terapi atau radiasi gelombang pertama sudah dilakukan sebanyak 10x. Kalau harus menjalani radio terapi lagi, berarti aku harus tinggal dua minggu lagi sampai tgl 3 Juni 2011. Itu juga dengan catatan kalau mesinnya nggak rusak..



Untunglah dokter mengatakan bahwa aku tak perlu radiasi lagi sehingga bisa pulang hari Jumat tgl. 27 Mei 2011. Wah, senangnya...




Pada hari H, terdapat kiriman bunga dari Feiny yang membuat kamarku berbau harum .. Disusul dengan datangnya keranjang berisi dua pot bunga anggrek yang menjulang tinggi dari Mimi. Ini bunga anggrek beneran lho.. Jadi biar pun ultah telah berlalu, tapi anggrek itu tetap ada. Oh ya, ada juga sejumlah bunga cantik dalam wadah serupa ember kayu yg dibalut dengan kertas krep warna ungu kiriman teman2 eks Syantikara. Aku nggak tau apa nama bunga2 itu, yg jelas semuanya cantik.



Di sore hari beberapa teman datang. Lalu . .datanglah senampan nasi tumpeng komplet dengan lauk pauknya. Wow.. surprise.... Rupanya itu ide dari Lia dan Dewi... Trims ya.... Juga trims untuk Amalia yg datang dengan mi gorengnya. Emang sih, katanya kalau ultah harus ada mie, supaya umurnya panjang seperti mie.... Hehehee...



Acara dimulai dengan menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun disusul dengan meniup lilin yg jumlahnya hanya 1... Bukan berarti umurnya 1 tahun atau 1 abad lho.....Yach, pokoknya biar seru saja....



Setelah itu pemotongan tumpeng. Ujung tumpeng aku potong, lalu aku serahkan ke Lia, yang kemudian mengambil lauk pauk, menaruhnya ke piring dan menyerahkannya lagi kepadaku. Lho... ini namanya dari aku kembali ke aku lagi...... Aku sih nggak protes, mengingat perut jadi keroncongan melihat hidangan lezat itu... Langsung deh, aku sikat makanannya.... Sedapppp...


Sunday, May 29, 2011

Tulalit (1)

Beberapa hari pertama setelah pindah dari High Care Unit ke kelas 3, setiap kali makanan datang selalu disertai dengan catatan: # seafood

”Tanyakan saja nanti ke petugas gizi. Hari Senin petugas akan ke sini,” kata suster.

Ketika petugas datang, aku menanyakan soal itu.

”Yang tidak makan seafood itu ibu Herdiana,” katanya.

”Saya bukan ibu Herdiana,” aku menimpali.

”Yang tidak makan seafood itu ibu Herdiana,” ia mengulang pernyataannya.

“Saya bukan ibu Herdiana,” kataku sambil menahan ketawa.

Ia tampaknya mulai mengerti. Diperiksanya catatan yg di tangannya. Dan ia pun berlalu sebelum aku sempat menanyakan apakah boleh mengajukan special order seperti nasi padang, gudeg atau crispy pizza.

Tulalit (2)

Fisio terapi merupakan hal yang rutin dilakukan selama aku dirawat di RS. Hal ini perlu untuk merangsang otot2 kaki dan menguatkan badan.

Jadwal hari itu dimulai jam 9 pagi. Tapi sampai jam 10 belum datang petugas yang membawaku ke unit rehabilitasi medis di lantai 2 untuk terapi.

Lalu aku SMS mbak Nella, terapisku yg segera membalas, mengatakan bahwa ia telah minta suster untuk membawaku turun sejak jam 9

Segera suster dihubungi ulang dan beberapa saat kemudian datanglah seorang petugas yg dengan wajah tanpa dosa mengatakan: “Dari tadi saya mencari ibu Nella untuk dibawa ke bawah….”